Minggu, 20 November 2016

Perempuan Dalam Foto

Foto itu, dicetak di atas canvas kualitas terbaik berukuran 3 x 4 meter, digantung pada panel bercat putih berukuran besar. Aku duduk di sofa empuk berbentuk balok yang telah dipersiapkan di depan karya agung itu. Aku menatapnya berjam – jam, berdialog dengannya. Berbicara tentang kebebasan, berbicara tentang karya seni terbaik, membahas novel yang baru selesai kubaca, berdebat soal musik, menyinggung masalah toleransi, juga tentang rindu dan cinta. Hening..

@arisyaitu
Di museum itu terpajang puluhan karya fotografi dari seniman foto terbaik negeri ini. Seperti Angki Purbakala, Oscar Mentull, Agus Singaraja, dan lainnya. Museum ini merupakan museum fotografi pertama dan satu – satunya di negeri ini. Milik konglongmerat asal Semarang. Seorang kolektor karya fotografi dengan harga puluhan juta rupiah perfoto. Orang gila ...

“Museum Fotografi Semar Mesem” nama museum itu.


Perempuan itu berdiri menghadap ke luar jendela. Rambutnya panjang terurai. Gestur tubuhnya memperlihatkan bahwa ia menyembunyikan penderitaan. Meski mata dan wajahnya tak terlihat, aku membayangkan ekspresi wajahnya datar, tatapan matanya kosong dan berkaca – kaca.

Foto hitam putih itu menyatu dengan jiwa perempuan itu. Warna hitam yang mendominasi semakin menegaskan penderitaan yang ia rasakan. Cahaya dari luar masuk menembus jendela berjeruji itu, menjadi penerang dalam foto. Juga jiwanya.

Lalu datanglah iblis. Ia mengerti apa yang dirasakan perempuan itu, terharu, ia pun berbisik; Pergilah, kejar impianmu, raih kebahagiaanmu, kebebasanmu ada di luar sana.

Petugas museum menepuk pundakku dari belakang. Menunjukkan Swiss Army tiga puluh ribuan miliknya, lalu berkata; Museum akan ditutup mas ...


Semarang, 20 November 2016
_A.Y_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar