Perempuan Dalam Foto
Foto
itu, dicetak di atas canvas kualitas terbaik berukuran 3 x 4 meter, digantung
pada panel bercat putih berukuran besar. Aku duduk di sofa empuk berbentuk
balok yang telah dipersiapkan di depan karya agung itu. Aku menatapnya berjam –
jam, berdialog dengannya. Berbicara tentang kebebasan, berbicara tentang karya
seni terbaik, membahas novel yang baru selesai kubaca, berdebat soal musik,
menyinggung masalah toleransi, juga tentang rindu dan cinta. Hening..
![]() |
| @arisyaitu |
Di museum
itu terpajang puluhan karya fotografi dari seniman foto terbaik negeri ini. Seperti
Angki Purbakala, Oscar Mentull, Agus Singaraja, dan lainnya. Museum ini
merupakan museum fotografi pertama dan satu – satunya di negeri ini. Milik konglongmerat
asal Semarang. Seorang kolektor karya fotografi dengan harga puluhan juta
rupiah perfoto. Orang gila ...
“Museum Fotografi Semar Mesem” nama museum itu.
“Museum Fotografi Semar Mesem” nama museum itu.
Perempuan
itu berdiri menghadap ke luar jendela. Rambutnya panjang terurai. Gestur tubuhnya
memperlihatkan bahwa ia menyembunyikan penderitaan. Meski mata dan wajahnya tak
terlihat, aku membayangkan ekspresi wajahnya datar, tatapan matanya kosong dan
berkaca – kaca.
Foto
hitam putih itu menyatu dengan jiwa perempuan itu. Warna hitam yang mendominasi
semakin menegaskan penderitaan yang ia rasakan. Cahaya dari luar masuk menembus
jendela berjeruji itu, menjadi penerang dalam foto. Juga jiwanya.
Lalu
datanglah iblis. Ia mengerti apa yang dirasakan perempuan itu, terharu, ia pun
berbisik; Pergilah, kejar impianmu, raih
kebahagiaanmu, kebebasanmu ada di luar sana.
Petugas
museum menepuk pundakku dari belakang. Menunjukkan Swiss Army tiga puluh ribuan miliknya, lalu berkata; Museum akan
ditutup mas ...
Semarang, 20 November 2016
_A.Y_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar