Senin, 31 Juli 2017

GUNUNG MERAPI



STOP = JALAN TERUS

Puncak tertinggi Gunung Merapi ada di belakang kami, hanya ratusan meter mungkin. Tetapi kami tidak ke sana. Bukan karna sudah tak mampu mendaki, melainkan karena kami masih bisa membaca dengan baik dan benar, eh cari aman maksudnya. Di sini berdiri beberapa papan kuning besar bertuliskan "STOP !! BERHENTI DI SINI - BATAS AMAN PENDAKIAN".

Di base camp sebenarnya tidak ada larangan dari petugas untuk mendaki sampe puncak tertinggi. Di papan kuning besar juga tidak ada tulisan "DILARANG".  Mungkin  itu yg menjadi alasan banyak pendaki tetap mendaki sampe puncak, karena hanya ada perintah berhenti dan tulisan di sini batas aman pendakian.

Mungkin ada yang mbatin; Nanggung / percuma / cemen dkk, tinggal sak-nyuk-an lagi koq nggak dilanjutkan.
Atau mungkin ada yang ngrasani; Dasar ndeso! sok tertib, sok bijak, sok wais, dan sok sok yang lainnya.
Atau mungkin, mungkin loh ya, ada yang berpendapat kalo naik gunung itu harus sampe pada titik tertingginya baru keren, bahkan kalau di puncak tertinggi ada pohon juga perlu dipanjat biar greget, sambil nulis; "Hey jodohku, kapan kamu ke sini bareng aku - TOP of Nama Gunung - Sekian ribu mdpl - ttd, Jodohmu :v

Jika ada yang "mbatin" seperti yang sudah saya sebutkan di atas akan saya jawab begini; Tidak ada yang percuma dan nanggung, karna saya menikmati perjalanan bersama teman-temanku sejak dari langkah pertama meninggalkan base camp. Jika ada yang bilang cemen, itu kan kata mereka, teman-temanku mengatakan kalo saya keren :p
Jika ada yang "ngrasani" seperti yg sdh saya sebutkan di atas akan saya jawab; Memang saya wong ndeso, tepatnya lahir di Ds. Kaligintung, Wonosobo. Tenang, tidak akan saya laporkan koq..

Lalu yang sok-sok-an itu saya betulkan saja menjadi "belajar menjadi". Maka jika digabung dengan "tertib" akan menjadi "Belajar menjadi tertib", jika digabung dengan "bijak" akan menjadi "Belajar menjadi bijak". Itu....... 

Jika ada yang "berpendapat" seperti yg saya sebutkan di atas akan saya jawab; "Menaklukkan puncak gunung bukanlah yang utama, puncak tertinggi yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu menaklukkan ego, kemalasan dan sifat manja diri kita sendiri. Tetapi karena kalimat tersebut sudah banyak dikutip orang dan entah siapa penemu dari kalimat luar biasa itu, maka saya akan memberi jawaban kedua, yaitu bahwa jawaban tersebut benar.

JAM KARET

Sabtu 16 Juli 2017 pukul 13.40 di Base Camp New Selo Gunung Merapi,  dua temanku sudah menunggu di sana. Nampak Dedek berdiri di pintu base camp dengan wajah riangnya, sedangkan Umar tertidur pulas di bangku depan base camp.
Menurut jadwal yang sudah disepakati bersama, kami akan berkumpul pukul 10.00 bukan pukul 13.40. Tetapi begitulah, Jam karet sudah menjadi lagu wajib di antara kita.  

SIMAKSI beres, kami berangkat.  Sekitar pukul  15.00 kami bertujuh memulai pendakian.
Mulai dari jalan aspal, lalu menjadi setapak, kemudian tanah berdebu karena saat ini musim kemarau, lanjut bebatuan, hingga sampai pada jalan berpasir / kerikil. Akhirnya sampailah kita di Pasar Bubrah, kurang lebih pukul  21.00.   Angin cukup kencang di area ini, dua tenda didirikan berdampingan, juru masak menyiapkan makan malam, kenyang, tidur.

   Selamat pagi, Seekor ayam jago menyambut kami di depan tenda. Yap, ayam hidup. Bagaimana ceritanya ayam tersebut bisa ada di situ saya kurang paham, nampaknya ia kedinginan sampai bulunya tidak karuan bentuknya. Kasihan saya melihatnya, sampai ingin rasayanya untuk  menghangatkannya (ayam panggang :D).

Setelah cukup puas  menikmati  suasana Gunung Merapi, kami turun pukul 12.00 dan lanjut pulang ke rumah masing-masing. Lalu tidur lagi ...




Semarang, 01 Agustus 2017

_A.Y_