Gunung Sindoro
(Pawang
Hujan VS Ramalan Cuaca)
Akhirnya setelah beberapa kali jalan
– jalan ke gunung dan mendapat paksaan maha dahsyat (dari diri sendiri) untuk mengabadikan momen jalan – jalan tersebut
dalam bentuk tulisan sehingga dapat menjadi rujukan adik – adik yang barangkali
mau membuat skripsi berjudul “Pengaruh
Pawang Hujan dan Kemenyan Terhadap Intensitas Hujan di Gunung Sindoro” atau
yang lain, misalnya. :v
 |
| A.Y |
Pada tanggal 10
September 2016 saya dan beberapa teman melakukan pendakian ke gunung Sindoro
via basecamp Sikatok, desa Sigedang (Perkebunan
teh Tambi), Wonosobo.
Kronologisnya begini; Jumat malam 9 September 2016 sekitar pukul 19.30 saya dan dua
orang teman berangkat menuju Wonosobo, beserta dengan seperangkat alat gunung
lengkap dibayar dimuka (alias sewa). Dua
jam kemudian sekitar pukul 21.30 kami
berhenti di Parakan untuk mengisi perut, masakan padang, ada tipi nya dan kebetulan menayangkan bola
antara ... (maaf lupa), dan kami
putuskan menonton sampai selesai.
 |
| Basecamp Sikatok |
Akhirnya, sekitar pukul
23.30 kami sampai di Wonosobo – Kaligintung – Kampung halaman saya dengan
selamat. Keesokan harinya, sabtu pagi kami bertemu dengan tiga teman dari
Wonosobo yang mau gabung ke Sindoro. Persiapan logistik dan lainnya segera
disiapkan, sementara itu saya
menyempatkan diri kondangan ke teman yang kebetulan menikah hari itu.
Sabtu 10 September
pukul 14.00 kami berangkat menuju basecamp Sikatok disertai doa orang tua
supaya kembali lagi dengan selamat.
Prakiraan
Cuaca dan Pawang Hujan
Jauh hari sebelum hari pendakian saya sudah mengingatkan
teman – teman supaya bersiap untuk menghadapi cuaca yang tidak menentu seperti
saat ini. Dikarenakan beberapa teman baru pertama kali melakukan pendakian saya
ingatkan untuk membawa jas hujan dan pakaian ganti, jadi meskipun nanti turun
hujan kita tetap lanjut.
Suatu hari ketika kami
berdiskusi tentang kemungkinan hujan, seorang teman berceletuk; “tenang bae nyong due kenalan pawang udan
paling top se Wonosobo, ngemben pas muncak dijamin terang” (tenang saja
saya punya kenalan pawang hujan paling top di Wonosobo, besok saat muncak pasti
terang). Ha ha ha .... saya tanggapi celetukannya dengan tertawa.
Beberapa
hari sebelum berangkat, setiap di kantor lagi
selo saya rajin memantau prakiraan cuaca area Gunung Sindoro. Hampir setiap
hari saya sempatkan nge-cek untuk memastikan perubahannya. Selama beberapa hari
tersebut hasilnya konsisten, tanggal 10 september relatif berawan, tanggal 11 september hujan sekitar
pukul 10.00 dan hari lainnya hujan.
Basecamp – Batu Tulis
 |
| Tiket |
Sesampainya di basecamp
tak lupa kami menyerbu makanan khas kota ini, tempe kemul, panas baru turun dari penggorengan. Kalau kata Pak
Bondan: Maknyusss!!!
Kemudian saya mewakili teman – teman melakukan regristrasi, tiket per orang Rp
10.000 (di tiket tertulis Rp 5.000) dan per motor Rp 5.000. Total Rp 80.000
saya bayarkan tunai, 6 orang dan 4 motor.
 |
| Kebun Teh 1 |
Waktu itu basecamp cukup sepi, hanya
ada dua kelompok kalau saya tidak salah, tetapi sudah ada beberapa motor di
parkiran. Setelah bertegur sapa dengan kelompok lain dan berfoto bersama,
sekitar pukul 16.15 kami memulai pendakian. Dari basecamp menuju
pos 1 kami melewati perkebunan teh yang begitu luas dan memanjakan mata.
Beberapa kali kami berpapasan dengan warga setempat dan bertegur sapa dengan
ramah.
Tak terasa sampailah kami di pos 1, sebuah bangunan atap cukup luas,
mungkin difungsikan sebagai tempat untuk mengumpulkan hasil panen teh. Pos 1 sampai
pos 2 masih dalam area perkebunan teh, hanya saja treknya semakin menanjak.
Masih dalam area perkebunan teh kami beristirahat sejenak sambil makan salak bekal seorang teman hasil panen belakang rumah.
 |
| Kebun Teh 2 |
Tak lama berselang kami
melanjutkan perjalanan dan mulai memasuki kawasan hutan. Disini cuaca mulai
berkabut dan sedikit gerimis, dan saya menyinggung pawang hujan paling top
seantero Wonosobo tadi; “dukune ora mandhi ki” (pawang hujannya
tidak manjur nih)., “Tenang
bae pohoke, mau wes diobongna menyan,
nang ndowor cerah”, (tenang saja, tadi sudah dibakarkan kemenyan, diatas
pasti cerah) jawab temanku. Yasudahlah, manut
mbahe...
Tak lama kemudian
terdengar suara adzan dari kejauhan, menandakan waktunya sholat maghrib. Kami
putuskan berhenti sejenak menunggu kumandang adzan selesai dan barangkali ada
yang mau menunaikan sholat maghrib dahulu. Namun ternyata tak ada yang
melaksanakannya termasuk saya. Ampuni kami para mukhafir ini ya Allah...
 |
| Pos 3 |
Sekitar pukul 19.30
kami tiba di pos 3 (Batu Tulis), cuaca kembali cerah, langit berbintang dan
udara semakin dingin. Jadi kami putuskan istirahat lagi sambil membuat kopi
untuk menghangatkan badan. Sambil
menunggu air mendidih saya nyalakan handphone
untuk melihat hasil foto di basecamp tadi. O me gatt, signal telkomsel
disini penuh rupanya, sampai luber bisa buat ngisi signal XL dan Indosat! :v
Akhirnya setelah sekian
lama kami bertemu juga dengan kelompok pendaki lain, mereka menyapa lalu
melewati kami begitu saja.
Batu
Susu
 |
| Abang Lelah Dek |
Dari Batu Tulis kami menuju
Batu Susu, tempat kami akan mendirikan tenda. Tadi di basecamp kami diingatkan
untuk tidak mendirikan tenda di puncak, kami di sarankan mendirikan tenda di
kawasan Batu Susu. Alasannya adalah dikarenakan kawah Sindoro sedang
mengeluarkan asap / gas belerang yang berbau sangat menyengat. Benar saja, dari
Batu Tulis saja aroma belerang sudah terendus menusuk hidung.
Dalam perjalanan menuju
Batu Susu seorang teman sempat terperosok ke dalam kalenan (jalur air), dasarnya kami anak desa, melihat teman dalam
penderitaan kami rame – rame menertawakannya hihihi, baru setelah itu kami
menariknya keluar dari tempat terkutuk itu. Usut punya usut kejadian tadi
dikarenakan keteledorannya sendiri, dikarenakan signal full Ia melanjutkan
pendakian sambil nyambi pantau medsosnya. Nah gaes, kita harus bijak ya dalam
ber medsos, tahu kapan waktu yang tepat dan kapan waktu yang tidak tepat.
Dari kejauhan mulai
terlihat tenda warna merah dan kuning berdiri bersebalahan layaknya sepasang
kekasih yang sedang memadu cinta. Waktu sudah menunjukan pukul 20.15, meskipun
gelap terlihat plang bertuliskan Batu Susu di pinggir jalan, artinya kami sudah
sampai di camp area tempat kami akan
menginap. Tak lama berselang kami melawati sepasang tenda tersebut, sepi tak
terlihat penghuninya. Tak jauh dari situ terlihat dua tenda lainnya sudah
berdiri. Kami memutuskan mencari tempat lebih ke atas dan yang cukup luas
supaya tenda kami bisa bersebelahan layaknya sepasang kekasih sedang memadu
cinta.
Akhirnya, dibawah pohon
ini kami mendirikan tenda, bersebelahan. Di hadapan kami Gunung Prau, Gunung
Botak, dan Gunung Kendil melambai – lambai minta kami datangi. Sungguh, dari
ketinggian ini tiada lagi nikmat yang kami dustakan.
Setelah dua tenda
berdiri dengan gagah sebagian dari kami menyiapkan makan malam dan sebagian
menyiapkan membuat api unggun. Kebetulan di sekitar tenda banyak terdapat
ranting dan kayu sisa kebakaran hutan beberapa waktu yang lalu. Kami menyusun
batu melingkar untuk tempat membuat api unggun supaya api tidak menjalar ke
sekitarnya. Kami duduk mengitarinya, bercanda, minum oplosan penghangat badan;
susu jahe dengan coffemix sambil menunggu makan malam siap. Sungguh kebersamaan
dalam suasana seperti ini selalu membuatku rindu.


Makan malam kami cukup
mewah, masih ada nasi bekal dari rumah, lauknya ada ayam, bakso, rendang, soto
juga ada. Semua dalam bentuk mie instan. hehe
Semakin malam ternyata semakin banyak pendaki lain yang berdatangan, beberapa
kelompok melewati kami dan saling saling menyapa dengan ramah atau dengan “joke”, mereka berencana mendirikan
tenda di sekitar puncak katanya. Dari tempat kami mendirikan tenda terlihat di
bawah ada sekitar enam tenda sudah berdiri, termasuk sepasang tenda yang sedang
memadu kasih tadi.
Menyoal tentang hujan,
kami bersyukur cuaca malam ini cerah berbintang tiada mendung sedikitpun.
Temanku tertawa puas kemenyannya manjur menangkal hujan :v
Tetapi saya pribadi lebih suka percaya pada prakiraan cuaca yang ternyata kali
ini tepat dalam memperkirakan cuaca hari ini. Tetapi apapun itu saya percaya
semua terjadi karena kehendak Yang Maha Kuasa.
Sekitar pukul 23.00 api
unggun kami matikan dan memutuskan untuk tidur, lalu melanjutkan summit attack esok hari.
Puncak
Sindoro 3153 Mdpl
Minggu 11 September
pukul 03.00 alarm berbunyi, kami bersiap untuk melanjutkan summit attack . Barang – barang berharga kami kemasi untuk dibawa
serta demi keamanan dan sebagian logistik kami bawa sebagai bekal. Sekitar pukul 03.30 kami mulai perjalanan
dengan bismillah. Menurut orang basecamp, dari Batu Susu sampai ke puncak
dibutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Tetapi karena kami bukan orang basecamp
dan bukan pula pendaki propesional
yang setrong - setrong , tiga puluh
menitnya kami kalikan dua. 30 x 2 = 60, enam puluh menit sama dengan satu jam.
Jadi kami perkirakan kami membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mencapai
puncak.

Ini dia, pendakian yang
sesungguhnya baru saja dimulai. Trek dari tempat kami mendirikan tenda langsung
menanjak dan terjal berbatu. Dalam kondisi gelap dan hanya mengandalkan cahaya
senter, kami sempat mengalami salah jalur. Kami salah melewati jalur air yang
sangat sempit, terjal dan dalam. Setelah sadar ada yang salah dengan trek yang
kami lalui kami mencari tempat tinggi dan cukup terbuka untuk melihat sekitar.
Benar saja, jalur yang seharusnya berada sekitar 20 meter di sisi kiri kami. Akhirnya
kami memotong jalan menuju jalur yang benar.
Di sepanjang jalan menuju puncak rupanya sudah ada beberapa tenda berdiri
saling berjauh – jauhan. Seperti biasa kami saling bertegur sapa setiap bertemu
pendaki lain, hal yang jarang dilakukan ketika sedang berada di kota tempat
kita tinggal.
Dingin semakin menusuk
tulang, bau belerang kian menyengat namun puncak tak kunjung nampak. Kami
berjalan cukup lambat, selain dikarenakan treknya yang aduhai, kami juga menunggu salah satu rekan kami yang tak lain tak
bukan adalah adik saya sendiri, yang sudah kelelahan dan kehabisan tenaga.
Sepuluh meter berjalan minta break, maklum
ini kali keduanya naik gunung setelah Gunung Prau. Dalam situasi seperti ini
saya menyarankan teman – teman untuk melanjutkan perjalanan lebih dulu supaya
tidak ketinggalan moment sunrise. Empat orang melanjutkan perjalanan penuh
semangat menuju puncak, dan saya berjalan dengan sabar menemani adiku yang kelelahan
ini.

Beberapa saat kemudian
nun jauh diatas sana seorang teman berteriak memberitahukan kalau mereka sudah
mencapai puncak dan menunggu kami di sana. Matahari belum muncul ketika itu,
mengetahui teman – teman sudah sampai puncak membuat adiku semakin bersemangat
melanjutkan perjalanan, lebih termotivasi lagi karena ia ingin menyaksikan
sunrise dari puncaknya.
Yeahh puncak! Setelah
melakukan perjuangan yang begitu berat akhirnya samapailah kami di sini, puncak
Gunung Sindoro 3153 Mdpl. Sekitar pukul lima dini hari kurang sedikit kami
sampai di puncak tertinggi Gunung Sindoro. Batara Surya masih enggan menampakan
wujudnya, namun sinarnya tak mampu Ia sembunyikan, tajam bagaikan pedang,
berkilau menembus awan yang bergulung laksana ranjang Dewi Nawang.
Tak
berselang lama Batara Surya menampakan wujudnya tanpa malu. Dengan mahkota
kuning keemasan yang membuatnya terlihat begitu gagah, Ia membuat para penonton
yang budiman berteriak kegirangan seperti tetangga saya yang berteriak histeris
ketika menyaksikan Ariel muncul dari belakang panggung ketika konser.
Setelah puas menyaksikan
sunrise dan mengabadikannya dengan berfoto kami memutuskan untuk tidak buru –
buru kembali ke tenda. Kami bersepakat untuk berkeliling di kawasan puncak yang
begitu luas. Sebelum melanjutkan perjalanan kami membuat kopi panas dan
sarapan roti anyep dengan topping susu
kental manis.
Setelah tenaga
terkumpul kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju bibir kawah, meskipun asap pekat dan bau belerang menyengat hal itu
tak menjadi penghalang bagi rasa penasaran kami untuk melihat kawah dari dekat,
meskipun pada akhirnya kami tak dapat melihat dasar kawah karena seluruh area
kawah tertutup oleh asap yang dikeluarkan kawah itu sendiri.
Dari bibir kawah
terdengar suara gemuruh sangat keras yang bersumber dari dasar kawah, seperti
suara pesawat ketika lepas landas. Menurut beberapa referensi yang saya peroleh
mengenai kawah Gunung Sindoro, ketika kawah sedang tidak mengeluarkan asap / gas
belerang, para pendaki bisa turun mendekat ke dasar kawah karena disekitarnya terdapat
tanah datar yang cukup luas.
Segoro
Wedi atau Segoro Wedhi
Berikutnya kami menuju Segoro Wedi, entah yang benar Segoro Wedi atau Segoro Wedhi. Kebanyakan orang menuliskannya Segoro Wedi. Menurut analisa saya yang dangkal ini, Segoro itu bermakna Laut,
Wedi sama dengan Takut, sedangkan Wedhi
artinya Pasir. Jadi Segoro Wedi bisa saya artikan sebagai lautan takut, atau bisa juga ketakutan yang luas. Sedangkan Segoro Wedhi saya terjemahkan menjadi Lautan Pasir. Saya pribadi lebih suka
menyebutnya sebagai Segoro Wedhi, mengingat
kondisi puncak yang luas dan lapang serta bertanah bercampur kerikil entah
bagaimana menyebutnya, maka Segoro
atau Lautan disini saya analogikan
sebagai puncak yang luas dan lapang. Sedangkan Wedhi saya analogikan sebagai kondisi tanah berkerikil yang lebih
mendekati pasir.
Bagaimanapun juga
analisa saya tentang Segoro Wedhi
adalah analisis berdasarkan logika sederhana dan tidak ada sumber atau dalil
shahih yang dapat dipertanggungjawabkan. Jadi mari kita lanjutkan saja ke
cerita selanjutnya.
Ketika kami berjalan
disekitar Segoro Wedhi, saya mencium aroma
menyengat yang cukup aneh berada di tempat seperti ini, bukan bau
belerang, ini aroma yang tak asing dihidungku, aroma yang sering saya hirup ketika
sedang berjalan di sekitar klenteng, dupa! Benar saja, disekitar Segoro Wedhi
terdapat sebuah makam dari tumpukan batu dan beberapa dupa terselip
disana. Saya tidak tahu pasti mengenai
makam tersebut dan kurang begitu tertarik untuk mencari tahu. Hanya saja
disalah satu batunya terdapat tulisan Makam
Mbah KH Santri.
 |
| Makam |
Tak jauh dari makam rupanya terdapat camp area yang cukup luas. Banyak tenda yang berdiri disana, mungkin
mereka mendaki dari jalur yang berbeda dengan kami.
Turun
Gunung
 |
| Edelweis |
Sekitar pukul 09.00
kami kembali turun menuju tenda. Perjalanan turun relatif lebih mudah
dibandingkan dengan waktu naik. Tidak jauh dari puncak kami disuguhi
pemandangan indah di seketar kami, bunga edelweis tumbuh dimana – mana. Ada
lagi tanaman yang tak kalah indahnya yang tak saya ketahui namanya, bunganya
berwarna merah, banyak di temukan disekitar puncak. Disepanjang jalan kami
banyak menemukan buah Ucen, buah ini
seperti buah strawberry, rasa dan bentuknya hampir sama, hanya saja buah ini
lebih kecil.
 |
| Bunga ..... |
Kami sengaja
memperlambat perjalanan turun supaya bisa berlama – lama menikmati pemandangan
alam yang indah ini. Hingga akhirnya saya dan seorang teman memutuskan berjalan
menuju tenda lebih dulu untuk menyiapkan sarapan tahap dua. Terhitung kurang
dari satu jam sejak kami meninggalkan puncak tadi, saya dan seorang teman sudah
sampai tenda. Setelah beristirahat
sejenak didalam tenda, dibawah sebuah pohon, kami berdua mulai beraksi. Kali
ini kita masak besar, nasi putih! Dengan lauk tak jauh berbeda dari makan
malam.
 |
| Jalan Menuju Puncak |
Satu persatu teman –
teman mulai tiba tidak berbarengan. Dan
yang terakhir tak lain tak bukan adalah adiku yang ditemani seorang teman
dengan sabarnya. Sementara itu nasi belum juga matang, inilah alasan saya
menyebutnya masak besar, besar sabarnya !
Setelah acara makan
besar selesai dan cukup beristirahat kami berkemas untuk melanjutkan perjalanan
yang masih panjang. Ketika itu kabut mulai turun. Tak lupa sampah kami bawa
pulang kembali dan bekas api unggun kami beresi. Kami sempatkan foto ber enam
di bekas tempat mendirikan tenda. Sekitar pukul 11.00 dengan bismillah kami
melanjutkan perjalan menuju basecamp. Sepanjang perjalanan menuju basecamp kami
lalui dengan canda tawa meski dengan
wajah – wajah kelelahan dan dengkul yang tersala linu.
 |
| Lokasi Mendirikan Tenda |
Sekitar pukul 14.00
kami tiba di basecamp, cuaca mendung dan mulai turun gerimis. Setelah cukup
beristirahat dan membersihkan diri kami berpamitan pada penghuni basecamp
kemudian bergegas menuju rumah.
Kami bersyukur dapat
kembali kerumah dengan selamat dan hujan tidak turun hingga kami tiba.
Bersyukur dapat menyaksikan kebesaran Tuhan yang begitu menakjubkan dari puncak
Gunung Sindoro. Bersyukur atas alam Indonesia yang begitu indah, karena itu
mari kita menjadi penikmat alam yang bertanggung jawab. Jangan menjadi pendaki
yang suka meninggalkan sampah di gunung, jangan menjadi pendaki mesum, jangan
menjadi pendaki yang suka merusak alam, jangan menjadi pendaki yang suka corat
– coret sembarangan, “stop vandalism broh!”
karena sesungguhnya yang seperti itu adalah “ndeso” yang hakiki.
 |
| Pulang |
Salam Lestari
_A.Y_