Senin, 31 Juli 2017

GUNUNG MERAPI



STOP = JALAN TERUS

Puncak tertinggi Gunung Merapi ada di belakang kami, hanya ratusan meter mungkin. Tetapi kami tidak ke sana. Bukan karna sudah tak mampu mendaki, melainkan karena kami masih bisa membaca dengan baik dan benar, eh cari aman maksudnya. Di sini berdiri beberapa papan kuning besar bertuliskan "STOP !! BERHENTI DI SINI - BATAS AMAN PENDAKIAN".

Di base camp sebenarnya tidak ada larangan dari petugas untuk mendaki sampe puncak tertinggi. Di papan kuning besar juga tidak ada tulisan "DILARANG".  Mungkin  itu yg menjadi alasan banyak pendaki tetap mendaki sampe puncak, karena hanya ada perintah berhenti dan tulisan di sini batas aman pendakian.

Mungkin ada yang mbatin; Nanggung / percuma / cemen dkk, tinggal sak-nyuk-an lagi koq nggak dilanjutkan.
Atau mungkin ada yang ngrasani; Dasar ndeso! sok tertib, sok bijak, sok wais, dan sok sok yang lainnya.
Atau mungkin, mungkin loh ya, ada yang berpendapat kalo naik gunung itu harus sampe pada titik tertingginya baru keren, bahkan kalau di puncak tertinggi ada pohon juga perlu dipanjat biar greget, sambil nulis; "Hey jodohku, kapan kamu ke sini bareng aku - TOP of Nama Gunung - Sekian ribu mdpl - ttd, Jodohmu :v

Jika ada yang "mbatin" seperti yang sudah saya sebutkan di atas akan saya jawab begini; Tidak ada yang percuma dan nanggung, karna saya menikmati perjalanan bersama teman-temanku sejak dari langkah pertama meninggalkan base camp. Jika ada yang bilang cemen, itu kan kata mereka, teman-temanku mengatakan kalo saya keren :p
Jika ada yang "ngrasani" seperti yg sdh saya sebutkan di atas akan saya jawab; Memang saya wong ndeso, tepatnya lahir di Ds. Kaligintung, Wonosobo. Tenang, tidak akan saya laporkan koq..

Lalu yang sok-sok-an itu saya betulkan saja menjadi "belajar menjadi". Maka jika digabung dengan "tertib" akan menjadi "Belajar menjadi tertib", jika digabung dengan "bijak" akan menjadi "Belajar menjadi bijak". Itu....... 

Jika ada yang "berpendapat" seperti yg saya sebutkan di atas akan saya jawab; "Menaklukkan puncak gunung bukanlah yang utama, puncak tertinggi yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu menaklukkan ego, kemalasan dan sifat manja diri kita sendiri. Tetapi karena kalimat tersebut sudah banyak dikutip orang dan entah siapa penemu dari kalimat luar biasa itu, maka saya akan memberi jawaban kedua, yaitu bahwa jawaban tersebut benar.

JAM KARET

Sabtu 16 Juli 2017 pukul 13.40 di Base Camp New Selo Gunung Merapi,  dua temanku sudah menunggu di sana. Nampak Dedek berdiri di pintu base camp dengan wajah riangnya, sedangkan Umar tertidur pulas di bangku depan base camp.
Menurut jadwal yang sudah disepakati bersama, kami akan berkumpul pukul 10.00 bukan pukul 13.40. Tetapi begitulah, Jam karet sudah menjadi lagu wajib di antara kita.  

SIMAKSI beres, kami berangkat.  Sekitar pukul  15.00 kami bertujuh memulai pendakian.
Mulai dari jalan aspal, lalu menjadi setapak, kemudian tanah berdebu karena saat ini musim kemarau, lanjut bebatuan, hingga sampai pada jalan berpasir / kerikil. Akhirnya sampailah kita di Pasar Bubrah, kurang lebih pukul  21.00.   Angin cukup kencang di area ini, dua tenda didirikan berdampingan, juru masak menyiapkan makan malam, kenyang, tidur.

   Selamat pagi, Seekor ayam jago menyambut kami di depan tenda. Yap, ayam hidup. Bagaimana ceritanya ayam tersebut bisa ada di situ saya kurang paham, nampaknya ia kedinginan sampai bulunya tidak karuan bentuknya. Kasihan saya melihatnya, sampai ingin rasayanya untuk  menghangatkannya (ayam panggang :D).

Setelah cukup puas  menikmati  suasana Gunung Merapi, kami turun pukul 12.00 dan lanjut pulang ke rumah masing-masing. Lalu tidur lagi ...




Semarang, 01 Agustus 2017

_A.Y_


Minggu, 20 November 2016

Perempuan Dalam Foto

Foto itu, dicetak di atas canvas kualitas terbaik berukuran 3 x 4 meter, digantung pada panel bercat putih berukuran besar. Aku duduk di sofa empuk berbentuk balok yang telah dipersiapkan di depan karya agung itu. Aku menatapnya berjam – jam, berdialog dengannya. Berbicara tentang kebebasan, berbicara tentang karya seni terbaik, membahas novel yang baru selesai kubaca, berdebat soal musik, menyinggung masalah toleransi, juga tentang rindu dan cinta. Hening..

@arisyaitu
Di museum itu terpajang puluhan karya fotografi dari seniman foto terbaik negeri ini. Seperti Angki Purbakala, Oscar Mentull, Agus Singaraja, dan lainnya. Museum ini merupakan museum fotografi pertama dan satu – satunya di negeri ini. Milik konglongmerat asal Semarang. Seorang kolektor karya fotografi dengan harga puluhan juta rupiah perfoto. Orang gila ...

“Museum Fotografi Semar Mesem” nama museum itu.


Perempuan itu berdiri menghadap ke luar jendela. Rambutnya panjang terurai. Gestur tubuhnya memperlihatkan bahwa ia menyembunyikan penderitaan. Meski mata dan wajahnya tak terlihat, aku membayangkan ekspresi wajahnya datar, tatapan matanya kosong dan berkaca – kaca.

Foto hitam putih itu menyatu dengan jiwa perempuan itu. Warna hitam yang mendominasi semakin menegaskan penderitaan yang ia rasakan. Cahaya dari luar masuk menembus jendela berjeruji itu, menjadi penerang dalam foto. Juga jiwanya.

Lalu datanglah iblis. Ia mengerti apa yang dirasakan perempuan itu, terharu, ia pun berbisik; Pergilah, kejar impianmu, raih kebahagiaanmu, kebebasanmu ada di luar sana.

Petugas museum menepuk pundakku dari belakang. Menunjukkan Swiss Army tiga puluh ribuan miliknya, lalu berkata; Museum akan ditutup mas ...


Semarang, 20 November 2016
_A.Y_

Jumat, 18 November 2016

Gerakan Empat November - Enam Belas
Pendakian Gunung Sumbing

          Malam itu, 4/11/16 kami janji bertemu di Pom Banyumanik jam delapan malam. Dari tiga arah mata angin berbeda kami datang untuk menuju tempat yang sama, Gunung Sumbing. Aku yang pertama sampai, sekitar jam delapan kurang sepuluh menit. Tak lama berselang seorang teman datang, Anggun. Empat lainnya masih dalam perjalanan. Dua jam kemudian mereka tiba, terlambat dua jam dari jadwal. Tak jadi soal, Aku maklum mereka datang dari jauh, terkena macet, menerjang hujan pula.
           Kami tidak langsung menuju basecamp. Kami berencana mampir dan beristirahat dahulu di rumah orang tuaku, Wonosobo. Berjarak kurang lebih satu jam dari basecamp Garung dengan mengendarai motor jika kondisi jalan tidak macet.
Jam satu dini hari kami tiba di rumah. Belum sempat aku mengetuk pintu orang tuaku lebih dulu keluar rumah menyambut kami. Ibuku menyuguhi kopi dan makanan siap santap untuk menghangatkan badan. Dan kami pun tidur.
        Cuaca cukup bagus pagi itu. Setelah mandi, sarapan dan ngopi, kami menyusun ulang perbekalan pendakian. Setelah semua beres, kami berpamitan untuk segera berangkat menuju Gunung Sumbing. Tak lupa aku berbisik pada Ibuku saat berpamitan, bisikan yang selalu aku lakukan sebelum mendaki gunung manapun; “Mak, doakan hari ini tidak hujan dan kami pulang lagi dengan selamat”.

Basecamp 
            Sabtu, 5 November 2016. Sekitar jam sebelas siang suasana basecamp tidak begitu ramai, hanya ada satu dua kelompok pendaki terlihat di sana. Parkiran juga terlihat lengang, hanya terlihat beberapa motor terparkir.

Setelah urusan regristrasi beres, dipimpin brother Azam kami berdoa sebelum mulai pendakian.
Awalnya kami berencana lewat jalur baru, dari persimpangan kampung ambil arah kanan. Persimpangan pertama benar, on track. Persimpangan kedua, petunjuk arah jalur baru ambil arah kanan. Kami siap melangkah ke kanan sebelum seorang Ibu yang kebetulan lewat menyarankan untuk ambil arah lurus karena menurutnya jalur baru lebih susah dan jauh. Seorang kakek yang mendengar percakapan kami dengan si Ibu tiba-tiba keluar dari rumahnya dan menyarankan sama seperti yang disarankan si Ibu tadi. Dua suara untuk arah lurus, akhirnya kami mengikuti saran mereka. Baru beberapa meter kami melangkah, ketemu lagi persimpangan. Seorang Bapak di depan rumahnya menunjukan arah yang sama seperti yang disarankan Ibu dan Kakek tadi, arah lurus. Tiga suara..
Sambil berjalan kami sedikit ragu apakah jalur ini benar atau tidak, sebab jalur ini tidak ada dalam peta yang kami peroleh dari basecamp. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga dan mereka selalu menyapa dengan kalimat tanya yang sama; “Ajeng muncak mas?” Dari pertanyaan itu kami mulai yakin bahwa jalur ini benar.
Kami tiba di jalan raya, jalan dari susunan batu. Sampai sini kami mulai paham bahwa ternyata kami melewati jalan pintas area ladang warga. Jika dari persimpangan kampung tadi, jalur lama ambil arah kiri mengikuti jalan berbatu ini dan akan melewati sungai yang tadi sempat kami cari-cari. Sedangkan jalur baru ambil arah kanan yang tidak jadi kami lewati karena saran dari Ibu, Kakek dan Bapak tadi. Sedangkan jalur yang kami lalui ini adalah jalur pintas yang tidak ada dalam peta, meski akhirnya tembusannya adalah jalur lama juga. Setidaknya kami hemat waktu dan tenaga beberapa menit.

Malim
            Sekarang aku paham kenapa banyak pendaki yang memilih ngojek dari basecamp menuju pos 1 (Malim). Jalan berbatu ini meliuk – liuk seperti tak ada ujungnya, nanjak dan panas minta ampun karena saat itu matahari tepat berada di atas kepala. Air, pisang, dan telo godog mulai keluar bergantian dari sarangnya, pun agar-agar yang katanya menunda lapar. Sikattt Gan...
Setelah kurang lebih berjalan selama dua jam, pos 1 mulai terlihat dari kejauhan. Cukup ramai, beberapa kelompok pendaki, tukang ojek yang motor dan skillnya membuatku geleng-geleng kepala, ada juga warung di sana, mushola ada, air melimpah. Tapi sayang, jodohku tidak ada di sana..
Cukup lama kami berhenti  di pos 1, setelah makan siang dan beristirahat kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan setelah sholat ashar, sekitar setengah jam kemudian.
Jam tiga kami melanjutkan perjalanan. Cuaca bagus saat itu, bisa dibilang cerah menggembirakan. Perjalanan menuju pos 2 tidak begitu berat, adem banyak pohonnya. Sesekali kami berhenti untuk memperpanjang nafas sambil cekrak-cekrek, photo.

Engkol – engkolan
          Selepas pos 2 perjalanan mulai nanjak dan menantang, lebih tepatnya berat. Jika digambarkan dengan kata-kata begini kira-kira; dari pos 2 naik, lalu naiiiiikkk, kemudian naiiiiiikkkkkkkkkkkk, setelah itu naiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkk lagi, baru setelah itu sampailah pada apa yang kita semua menyebutnya engkol – engkolan. 

Apa itu engkol – engkolan? Aku sendiri tidak bisa menemukan definisi yang tepat untuk istilah ini. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) pun aku tidak menemukan isilah ini. Istilah ini biasa digunakan dalam pendakian, bahkan di peta jalur pendakian (Sumbing) juga disebutkan area engkol – engkolan ini. Sepengetahuanku, engkol-engkolan ini merujuk pada trek yang berat, nanjak, dan melelahkan pokoknya. Untuk lebih jelasnya silahkan tanya pada para suhu dunia pendakian.
Jam enam petang tenda kami berdiri. Dua tenda, masing-masing berkapasitas empat orang. Kami memutuskan berkemah di camp area pos 3 karena menurut referensi yang kami peroleh, area inilah yang paling nyaman untuk berkemah. Selain itu tenaga juga sudah  terkuras untuk menaklukan engkol-engkolan.
Makan malam, ngopi, udud sudah. Kami pun tidur...
Mataku terpejam, tetapi otak belum mau diajak ke alam mimpi. Ku tengok sebelah kananku brother Ni’am dan sebelah kiriku brother Dedek terlihat nyenyak mereka. Tenda sebelah yang di isi Azam, Umar dan Anggun juga tak terdengar suaranya, hanya playlist dangdutnya yang  menggelegar memekakkan telinga. Pisss...
        Sekitar jam sepuluh angin kencang datang menerpa pepohonan di sekitar sehingga menimbulkan suara menyeramkan. Gerimis turun, perlahan menjadi deras membuat suasana semakin ngeri. Aku pasang Headset, musik ku nyalakan keras-keras. Aku pun tertidur.

Pasar Itu Bernama Pasar Watu
Entah alarm yang kami setel berbunyi atau tidak, yang pasti kami kesiangan. Jam lima dini hari aku bangun. Terlambat dua jam dari jadwal yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Aku keluar tenda, hujan telah berhenti entah sejak kapan. Di hadapanku terlihat Gunung Sindoro berdiri dengan gagahnya. Tidak ada sunrise dipendakian kali ini, hanya terlihat mega – mega merah membentang seakan menjadi batas antara langit dan bumi.
Summit attack!  Perjalanan dilanjutkan, beban kami ringan sekarang, hanya makanan dan minuman seperlunya yang kami bawa. Rupanya banyak tenda yang berdiri di sekitaran camp area ini. Di tengah perjalanan, Azam mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Bendera Palestina. Ternyata mereka membawa misi perdamaian tanpa sepengatahuanku. Sungguh mulia perbuatan kalian, salut..
Jika kita amati, nama – nama pos yang digunakan pada setiap gunung itu unik – unik. Ada juga yang mistis. Entah siapa yang pertama kali memberikan nama, tentunya ada alasan yang mendasarinya. Seperti pos 4 ini misalnya, namanya “Pasar Watu”.  Umumnya pasar itu didefinisikan sebagai tempat untuk jual beli, sedangkan watu artinya batu. Tetapi di sini tidak ada kegiatan jual beli seperti yang orang lakukan ketika berada di pasar pada umumnya. Lapak – lapak jualan juga tidak ada. Hanya ada papan bertuliskan “Pos 3 – Pasar Watu”, dan bebatuan yang mendominasi kawasan tersebut. Jika dikaitkan dengan mistis bisa jadi pasar yang dimaksudkan di sini adalah pasarnya alam lain. Alam yang tidak kasatmata oleh manusia. 
Apapun itu, kami para pendaki adalah tamu (yang tidak diundang) yang harus tahu diri dan menghormati juga mematuhi aturan dan pantangan disana, baik yang tertulis maupun yang tidak. Yang tidak tertulis contohnya adalah tidak membicarakan hal mistis ketika sedang mendaki.
Pemandangan dari sini sangat indah. Jalan terjal berbatu pun terlihat indah dari kejauhan. Padahal ketika dilewati, rasanya mau pingsan.
Semua terlihat kecil di bawah sana. Mungkin seperti Tuhan ketika melihat manusia dari atas sana, kecil, hanya egonya saja yang nampak besar.
Berbicara soal ego, ada yang mengatakan bahwa mendaki gunung itu bukan soal menaklukan puncak tertinggi, tetapi menaklukan diri sendiri. Itu benar. Maksudanya adalah tentang bagaimana kita menaklukkan ego kita yang besarnya melebihi gunung itu sendiri. Ambisi mencapai puncak tertinggi tanpa memperhitungkan kemampuan sendiri maupun kelompoknya, mengacuhkan situasi dan kondisi gunung itu sendiri, dan satu lagi yang bikin miris, asal bisa foto keren di puncak tertinggi. Itu namanya ketololan.
       Dalam “Catatan Seorang Demonstran”, Soe Hok Gie menulis begini; Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia – manusia yang tidak percaya pada slogan.  Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan – slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu  secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”. Itu diucapkan Gie ketika sedang menyiapkan misi pendakian ke Gunung Semeru, untuk menjelaskan pada rekan – rekannya yang menanyakan kenapa Ia ingin melakukan misi tersebut. Ia, Gie, adalah seorang mahasiswa FSUI jurusan sejarah, tulisan – tulisannya kritis terhadap pemerintahan ORLA dan ORBA (Zaman Peralihan), berani mengemukakan pemikiran – pemikirannya yang dianggap benar, dan senang mendaki gunung tentunya. Sayang sekali Ia mati muda, di Gunung Semeru, sehari sebelum hari kelahirannya, 16 Desember 1969. Penyebab kematiannya yang banyak beredar adalah karena menghirup gas beracun. Ia juga pernah berkata “Seorang filsuf Yunani pernah menulis, nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” Ya, berbahagialah kau disana.

Dibohongi Pakai Kabut
        Terdengar aneh dan membuat kami saling bertanya, dari puncak tertinggi Gunung Sumbing terdengar suara adzan jam sepuluh siang. Apa menurutmu?
Sebelum sampai di puncak ada sebuah persimpangan yang satu menuju puncak buntu (lebih rendah) dan satunya menuju puncak tertinggi. Kami menuju puncak tertinggi. Akhirnya setelah perjuangan yang kami lakukan dengan melewati halangan dan rintangan yang membentang dari bawah sampai atas, sampailah kami di sini, puncak! Kabut tebal menyelimuti pemandangan sekitar dan menyebabkan jarak pandang hanya sebatas beberapa langkah kaki. Aku duduk di atas batu, bersiap mengabadikan momen di ketinggian ini. Perlahan kabut mulai memudar.
Tunggu dulu! Rupa – rupanya ini bukan puncak tertinggi. Masih ada petunjuk arah menuju puncak tertinggi. Tadi tak terlihat karena tertutup kabut. Sekarang semua jelas, ini adalah Puncak Kawah, di balik batu besar yang aku duduki ternyata terdapat kawah yang tadi tidak nampak sama sekali. Di papan penunjuk arah tertulis puncak tertinggi lima menit dari sini. Puncak  tertinggi ada di atas dinding batu besar. Kami menaikinya, sampai di tengah kami merambat  melalui sisi kanan dinding batu.
Terlihat sekelompok pendaki sedang membuat kopi di balik batu, di atasnya dua orang berseragam macam seragam militer sedang berfoto sambil mengibarkan Sang Merah Putih. Inilah puncak tertinggi yang sebenarnya. Puncak 3371 Mdpl, ada yang menyebutnya Puncak Sejati, ada juga yang menyebut Puncak Rajawali, barangkali ada lagi yang memiliki sebutan lain? Silakan..
Kabut masih mendominasi, pekat mengaburkan pandangan. Aku duduk berlindung batu dari terpaan angin. Menyalakan rokok dan menenggak teh pait dari termosnya Dedek. Saat itulah suara adzan berkumandang jam sepuluh siang.

Di Basecamp Kami Berpisah
           Di basecamp, sebelum kami mendaki, seorang Ibu penjual jamu menawarkan jamu anti lelah kepada kami. Jika sebelum muncak minum jamu ini maka diperjalanan tidak akan merasakan lelah, katanya. Hanya aku yang minum jamu seharga Rp. 10.000 ini. Tetapi, tetap saja lelah.
Aku berjalan lebih cepat dari yang lain ketika turun dari puncak. Motivasinya karena aku kelaparan. Pisang dan bengkoang segera ku lahap ketika sampai di kemah. Sambil menunggu yang lain tiba, aku masak mi instan tiga bungkus sekaligus. Maksudnya untuk makan tiga orang bukan untuk diriku sendiri. Aku tidak serakus itu.. 
         Mari Mas.. mari – mari, Nutrisari.. Bagi yang sudah pernah mendaki gunung mungkin pernah mendengar gurauan macam itu. Biasanya dimaksudkan untuk menyapa pendaki satu dengan lainnya ketika bertemu di jalan. Mari Mas di sini maksudnya adalah sapaan ramah untuk saling menghormati, bukan minuman kemasan banyak rasa. Ketika jalur pendakian ramai, dan antar pendaki satu dengan lainnya seringkali saling melewati, seperti Rossi dan Marquez saat balapan itu loh. Maka kata Mari Mas seringkali diplesetkan menjadi Marimas (minuman) dan seringkali dijawab dengan kata Nutrisari (minuman). Tetapi saat kondisi fisik sudah terlalu lelah, bahkan untuk sekedar mengucapkan kata Mari Mas saja dirasa sudah mengurangi tenaga, cukup kasih senyuman saja. Jika senyum juga sudah malas dan terasa menguras tenaga, diam saja, menunduk pura – pura ttidak  melihat orang di sekitar.
  Bu, nutrisari satu! Ini baru nutrisari sungguhan. Sudah ku bilang tadi bahwa di Pos 1 terdapat sebuah warung. Sambil menunggu kawan yang masih tertinggal di belakang, aku beristirahat di warung ini sambil minum nutrisari rasa sirsat.
  Menjelang maghrib kami beranjak dari Malim menuju basecamp. Akhirnya senter kami bermanfaat juga karena hari mulai gelap. Sesampai di basecamp kami beristirahat dan memesan makanan, aku hanya pesan teh anget karena belum lapar dan ingin makan di rumah. Satu jam kemudian pesanan datang. Luar biasa, lamanya!
   Jam sembilan malam kami bersiap pulang. Sebagian ke Semarang, sebagian ke Kaliwungu/Kendal, dan aku ke rumah orang tuaku, Wonosobo. Seremoni perpisahan segera dilakukan. Kami saling berjabat tangan, tidak berpelukan. Saling berterimakasih untuk kebersamaan yang hangat dalam gerakan empat november enam belas ini. Tidak ada air mata, hanya air hujan karena gerimis mulai turun.


Semarang, 18 November 2016

_A.Y_

Sabtu, 24 September 2016

Gunung Sindoro
(Pawang Hujan VS Ramalan Cuaca)

            Akhirnya setelah beberapa kali jalan – jalan ke gunung dan mendapat paksaan maha dahsyat (dari diri sendiri) untuk mengabadikan momen jalan – jalan tersebut dalam bentuk tulisan sehingga dapat menjadi rujukan adik – adik yang barangkali mau membuat skripsi berjudul “Pengaruh Pawang Hujan dan Kemenyan Terhadap Intensitas Hujan di Gunung Sindoro” atau yang lain, misalnya. :v
A.Y
Pada tanggal 10 September 2016 saya dan beberapa teman melakukan pendakian ke gunung Sindoro via basecamp Sikatok, desa Sigedang (Perkebunan teh Tambi), Wonosobo.

Kronologisnya begini; Jumat malam 9 September 2016 sekitar pukul 19.30 saya dan dua orang teman berangkat menuju Wonosobo, beserta dengan seperangkat alat gunung lengkap dibayar dimuka (alias sewa). Dua jam kemudian sekitar pukul 21.30 kami berhenti di Parakan untuk mengisi perut, masakan padang, ada tipi nya dan kebetulan menayangkan bola antara ... (maaf lupa), dan kami putuskan menonton sampai selesai.
Basecamp Sikatok
Akhirnya, sekitar pukul 23.30 kami sampai di Wonosobo – Kaligintung – Kampung halaman saya dengan selamat. Keesokan harinya, sabtu pagi kami bertemu dengan tiga teman dari Wonosobo yang mau gabung ke Sindoro. Persiapan logistik dan lainnya segera disiapkan,  sementara itu saya menyempatkan diri kondangan ke teman yang kebetulan menikah hari itu.
Sabtu 10 September pukul 14.00 kami berangkat menuju basecamp Sikatok disertai doa orang tua supaya kembali lagi dengan selamat. 

Prakiraan Cuaca dan Pawang Hujan
            Jauh hari sebelum hari pendakian saya sudah mengingatkan teman – teman supaya bersiap untuk menghadapi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini. Dikarenakan beberapa teman baru pertama kali melakukan pendakian saya ingatkan untuk membawa jas hujan dan pakaian ganti, jadi meskipun nanti turun hujan kita tetap lanjut.

Suatu hari ketika kami berdiskusi tentang kemungkinan hujan, seorang teman berceletuk; “tenang bae nyong due kenalan pawang udan paling top se Wonosobo, ngemben pas muncak dijamin terang” (tenang saja saya punya kenalan pawang hujan paling top di Wonosobo, besok saat muncak pasti terang). Ha ha ha .... saya tanggapi celetukannya dengan tertawa.

Beberapa hari sebelum berangkat, setiap di kantor lagi selo saya rajin memantau prakiraan cuaca area Gunung Sindoro. Hampir setiap hari saya sempatkan nge-cek untuk memastikan perubahannya. Selama beberapa hari tersebut hasilnya konsisten, tanggal 10 september relatif  berawan, tanggal 11 september hujan sekitar pukul 10.00 dan hari lainnya hujan.

Basecamp – Batu Tulis
Tiket
            Sesampainya di basecamp tak lupa kami menyerbu makanan khas kota ini, tempe kemul, panas baru turun dari penggorengan. Kalau kata Pak Bondan: Maknyusss!!!
Kemudian saya mewakili teman – teman melakukan regristrasi, tiket per orang Rp 10.000  (di tiket tertulis Rp 5.000) dan per motor Rp 5.000. Total Rp 80.000 saya bayarkan tunai, 6 orang dan 4 motor. 
Kebun Teh 1
Waktu itu basecamp cukup sepi, hanya ada dua kelompok kalau saya tidak salah, tetapi sudah ada beberapa motor di parkiran. Setelah bertegur sapa dengan kelompok lain dan berfoto bersama, sekitar pukul 16.15 kami memulai pendakian. Dari basecamp menuju pos 1 kami melewati perkebunan teh yang begitu luas dan memanjakan mata. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga setempat dan bertegur sapa dengan ramah. 

Tak terasa sampailah kami di pos 1, sebuah bangunan atap cukup luas, mungkin difungsikan sebagai tempat untuk mengumpulkan hasil panen teh. Pos 1 sampai pos 2 masih dalam area perkebunan teh, hanya saja treknya semakin menanjak. Masih dalam area perkebunan teh kami beristirahat sejenak sambil makan salak bekal      seorang teman hasil panen belakang rumah. 

Kebun Teh 2
Tak lama berselang kami melanjutkan perjalanan     dan mulai memasuki kawasan hutan. Disini cuaca     mulai berkabut dan sedikit gerimis, dan saya             menyinggung pawang hujan paling top seantero       Wonosobo tadi;  dukune ora mandhi ki” (pawang   hujannya tidak manjur nih).,  Tenang  bae               pohoke, mau wes diobongna menyan, nang ndowor   cerah”, (tenang saja, tadi sudah dibakarkan               kemenyan, diatas pasti cerah) jawab temanku.   Yasudahlah, manut mbahe...
      
Tak lama kemudian terdengar suara adzan dari kejauhan, menandakan waktunya sholat maghrib. Kami putuskan berhenti sejenak menunggu kumandang adzan selesai dan barangkali ada yang mau menunaikan sholat maghrib dahulu. Namun ternyata tak ada yang melaksanakannya termasuk saya. Ampuni kami para mukhafir ini ya Allah...
Pos 3
Sekitar pukul 19.30 kami tiba di pos 3 (Batu Tulis), cuaca kembali cerah, langit berbintang dan udara semakin dingin. Jadi kami putuskan istirahat lagi sambil membuat kopi untuk  menghangatkan badan. Sambil menunggu air mendidih saya nyalakan handphone untuk melihat hasil foto di basecamp tadi. O me gatt, signal telkomsel disini penuh rupanya, sampai luber bisa buat ngisi signal XL dan Indosat! :v


Akhirnya setelah sekian lama kami bertemu juga dengan kelompok pendaki lain, mereka menyapa lalu melewati kami begitu saja.

Batu Susu
Abang Lelah Dek
Dari Batu Tulis kami menuju Batu Susu, tempat kami akan mendirikan tenda. Tadi di basecamp kami diingatkan untuk tidak mendirikan tenda di puncak, kami di sarankan mendirikan tenda di kawasan Batu Susu. Alasannya adalah dikarenakan kawah Sindoro sedang mengeluarkan asap / gas belerang yang berbau sangat menyengat. Benar saja, dari Batu Tulis saja aroma belerang sudah terendus menusuk hidung.

Dalam perjalanan menuju Batu Susu seorang teman sempat terperosok ke dalam kalenan (jalur air), dasarnya kami anak desa, melihat teman dalam penderitaan kami rame – rame menertawakannya hihihi, baru setelah itu kami menariknya keluar dari tempat terkutuk itu. Usut punya usut kejadian tadi dikarenakan keteledorannya sendiri, dikarenakan signal full  Ia melanjutkan pendakian sambil nyambi pantau medsosnya. Nah gaes, kita harus bijak ya dalam ber medsos, tahu kapan waktu yang tepat dan kapan waktu yang tidak tepat.

Dari kejauhan mulai terlihat tenda warna merah dan kuning berdiri bersebalahan layaknya sepasang kekasih yang sedang memadu cinta. Waktu sudah menunjukan pukul 20.15, meskipun gelap terlihat plang bertuliskan Batu Susu di pinggir jalan, artinya kami sudah sampai di camp area tempat kami akan menginap. Tak lama berselang kami melawati sepasang tenda tersebut, sepi tak terlihat penghuninya. Tak jauh dari situ terlihat dua tenda lainnya sudah berdiri. Kami memutuskan mencari tempat lebih ke atas dan yang cukup luas supaya tenda kami bisa bersebelahan layaknya sepasang kekasih sedang memadu cinta.

Akhirnya, dibawah pohon ini kami mendirikan tenda, bersebelahan. Di hadapan kami Gunung Prau, Gunung Botak, dan Gunung Kendil melambai – lambai minta kami datangi. Sungguh, dari ketinggian ini tiada lagi nikmat yang kami dustakan.

Setelah dua tenda berdiri dengan gagah sebagian dari kami menyiapkan makan malam dan sebagian menyiapkan membuat api unggun. Kebetulan di sekitar tenda banyak terdapat ranting dan kayu sisa kebakaran hutan beberapa waktu yang lalu. Kami menyusun batu melingkar untuk tempat membuat api unggun supaya api tidak menjalar ke sekitarnya. Kami duduk mengitarinya, bercanda, minum oplosan penghangat badan; susu jahe dengan coffemix sambil menunggu makan malam siap. Sungguh kebersamaan dalam suasana seperti ini selalu membuatku rindu.
Makan malam kami cukup mewah, masih ada nasi bekal dari rumah, lauknya ada ayam, bakso, rendang, soto juga ada. Semua dalam bentuk mie instan. hehe

Semakin malam ternyata semakin banyak pendaki lain yang berdatangan, beberapa kelompok melewati kami dan saling saling menyapa dengan ramah atau dengan “joke”, mereka berencana mendirikan tenda di sekitar puncak katanya. Dari tempat kami mendirikan tenda terlihat di bawah ada sekitar enam tenda sudah berdiri, termasuk sepasang tenda yang sedang memadu kasih tadi.

Menyoal tentang hujan, kami bersyukur cuaca malam ini cerah berbintang tiada mendung sedikitpun. Temanku tertawa puas kemenyannya manjur menangkal hujan :v 

Tetapi saya pribadi lebih suka percaya pada prakiraan cuaca yang ternyata kali ini tepat dalam memperkirakan cuaca hari ini. Tetapi apapun itu saya percaya semua terjadi karena kehendak Yang Maha Kuasa.

Sekitar pukul 23.00 api unggun kami matikan dan memutuskan untuk tidur, lalu melanjutkan summit attack  esok hari.

Puncak Sindoro 3153 Mdpl
            Minggu 11 September pukul 03.00 alarm berbunyi, kami bersiap untuk melanjutkan summit attack . Barang – barang berharga kami kemasi untuk dibawa serta demi keamanan dan sebagian logistik kami bawa sebagai bekal.  Sekitar pukul 03.30 kami mulai perjalanan dengan bismillah. Menurut orang basecamp, dari Batu Susu sampai ke puncak dibutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Tetapi karena kami bukan orang basecamp dan bukan pula pendaki propesional yang setrong - setrong , tiga puluh menitnya kami kalikan dua. 30 x 2 = 60, enam puluh menit sama dengan satu jam. Jadi kami perkirakan kami membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mencapai puncak.
 
Ini dia, pendakian yang sesungguhnya baru saja dimulai. Trek dari tempat kami mendirikan tenda langsung menanjak dan terjal berbatu. Dalam kondisi gelap dan hanya mengandalkan cahaya senter, kami sempat mengalami salah jalur. Kami salah melewati jalur air yang sangat sempit, terjal dan dalam. Setelah sadar ada yang salah dengan trek yang kami lalui kami mencari tempat tinggi dan cukup terbuka untuk melihat sekitar. Benar saja, jalur yang seharusnya berada sekitar 20 meter di sisi kiri kami. Akhirnya kami memotong jalan menuju jalur yang benar.
Di sepanjang jalan menuju puncak rupanya sudah ada beberapa tenda berdiri saling berjauh – jauhan. Seperti biasa kami saling bertegur sapa setiap bertemu pendaki lain, hal yang jarang dilakukan ketika sedang berada di kota tempat kita tinggal.

Dingin semakin menusuk tulang, bau belerang kian menyengat namun puncak tak kunjung nampak. Kami berjalan cukup lambat, selain dikarenakan treknya yang aduhai, kami juga menunggu salah satu rekan kami yang tak lain tak bukan adalah adik saya sendiri, yang sudah kelelahan dan kehabisan tenaga. Sepuluh meter berjalan minta break, maklum ini kali keduanya naik gunung setelah Gunung Prau. Dalam situasi seperti ini saya menyarankan teman – teman untuk melanjutkan perjalanan lebih dulu supaya tidak ketinggalan moment sunrise. Empat orang melanjutkan perjalanan penuh semangat menuju puncak, dan saya berjalan dengan sabar menemani adiku yang kelelahan ini.

Beberapa saat kemudian nun jauh diatas sana seorang teman berteriak memberitahukan kalau mereka sudah mencapai puncak dan menunggu kami di sana. Matahari belum muncul ketika itu, mengetahui teman – teman sudah sampai puncak membuat adiku semakin bersemangat melanjutkan perjalanan, lebih termotivasi lagi karena ia ingin menyaksikan sunrise dari puncaknya.

Yeahh puncak! Setelah melakukan perjuangan yang begitu berat akhirnya samapailah kami di sini, puncak Gunung Sindoro 3153 Mdpl. Sekitar pukul lima dini hari kurang sedikit kami sampai di puncak tertinggi Gunung Sindoro. Batara Surya masih enggan menampakan wujudnya, namun sinarnya tak mampu Ia sembunyikan, tajam bagaikan pedang, berkilau menembus awan yang bergulung laksana ranjang Dewi Nawang. 

Tak berselang lama Batara Surya menampakan wujudnya tanpa malu. Dengan mahkota kuning keemasan yang membuatnya terlihat begitu gagah, Ia membuat para penonton yang budiman berteriak kegirangan seperti tetangga saya yang berteriak histeris ketika menyaksikan Ariel muncul dari belakang panggung ketika konser.
 
Setelah puas menyaksikan sunrise dan mengabadikannya dengan berfoto kami memutuskan untuk tidak buru – buru kembali ke tenda. Kami bersepakat untuk berkeliling di kawasan puncak yang begitu luas. Sebelum melanjutkan perjalanan kami membuat kopi panas dan sarapan  roti anyep dengan topping susu kental manis.
Setelah tenaga terkumpul kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju bibir kawah, meskipun  asap pekat dan bau belerang menyengat hal itu tak menjadi penghalang bagi rasa penasaran kami untuk melihat kawah dari dekat, meskipun pada akhirnya kami tak dapat melihat dasar kawah karena seluruh area kawah tertutup oleh asap yang dikeluarkan kawah itu sendiri. 

Dari bibir kawah terdengar suara gemuruh sangat keras yang bersumber dari dasar kawah, seperti suara pesawat ketika lepas landas. Menurut beberapa referensi yang saya peroleh mengenai kawah Gunung Sindoro, ketika kawah sedang tidak mengeluarkan asap / gas belerang, para pendaki bisa turun mendekat ke dasar kawah karena disekitarnya terdapat tanah datar yang cukup luas.


Segoro Wedi atau Segoro Wedhi
            Berikutnya kami menuju Segoro Wedi, entah yang benar Segoro Wedi atau Segoro Wedhi. Kebanyakan orang menuliskannya Segoro Wedi. Menurut analisa saya yang dangkal ini, Segoro itu bermakna  Laut, Wedi sama dengan Takut, sedangkan Wedhi artinya Pasir. Jadi Segoro Wedi bisa saya artikan sebagai lautan takut, atau bisa juga ketakutan yang luas. Sedangkan Segoro Wedhi saya terjemahkan menjadi Lautan Pasir. Saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai Segoro Wedhi, mengingat kondisi puncak yang luas dan lapang serta bertanah bercampur kerikil entah bagaimana menyebutnya, maka Segoro atau Lautan disini saya analogikan sebagai puncak yang luas dan lapang. Sedangkan Wedhi saya analogikan sebagai kondisi tanah berkerikil yang lebih mendekati pasir.
Bagaimanapun juga analisa saya tentang Segoro Wedhi adalah analisis berdasarkan logika sederhana dan tidak ada sumber atau dalil shahih yang dapat dipertanggungjawabkan. Jadi mari kita lanjutkan saja ke cerita selanjutnya.
                            
Ketika kami berjalan disekitar Segoro Wedhi, saya mencium aroma  menyengat yang cukup aneh berada di tempat seperti ini, bukan bau belerang, ini aroma yang tak asing dihidungku, aroma yang sering saya hirup ketika sedang berjalan di sekitar klenteng, dupa! Benar saja, disekitar Segoro Wedhi terdapat sebuah makam dari tumpukan batu dan beberapa dupa terselip disana.  Saya tidak tahu pasti mengenai makam tersebut dan kurang begitu tertarik untuk mencari tahu. Hanya saja disalah satu batunya terdapat tulisan Makam Mbah KH Santri. 
Makam

Tak jauh dari makam rupanya terdapat camp area yang cukup luas. Banyak tenda yang berdiri disana, mungkin mereka mendaki dari jalur yang berbeda dengan kami.




Turun Gunung
Edelweis
Sekitar pukul 09.00 kami kembali turun menuju tenda. Perjalanan turun relatif lebih mudah dibandingkan dengan waktu naik. Tidak jauh dari puncak kami disuguhi pemandangan indah di seketar kami, bunga edelweis tumbuh dimana – mana. Ada lagi tanaman yang tak kalah indahnya yang tak saya ketahui namanya, bunganya berwarna merah, banyak di temukan disekitar puncak. Disepanjang jalan kami banyak menemukan buah Ucen, buah ini seperti buah strawberry, rasa dan bentuknya hampir sama, hanya saja buah ini lebih kecil.
Bunga .....
Kami sengaja memperlambat perjalanan turun supaya bisa berlama – lama menikmati pemandangan alam yang indah ini. Hingga akhirnya saya dan seorang teman memutuskan berjalan menuju tenda lebih dulu untuk menyiapkan sarapan tahap dua. Terhitung kurang dari satu jam sejak kami meninggalkan puncak tadi, saya dan seorang teman sudah sampai tenda.  Setelah beristirahat sejenak didalam tenda, dibawah sebuah pohon, kami berdua mulai beraksi. Kali ini kita masak besar, nasi putih! Dengan lauk tak jauh berbeda                                                                 dari makan malam.
Jalan Menuju Puncak

Satu persatu teman – teman mulai tiba  tidak berbarengan. Dan yang terakhir tak lain tak bukan adalah adiku yang ditemani seorang teman dengan sabarnya. Sementara itu nasi belum juga matang, inilah alasan saya menyebutnya masak besar, besar sabarnya !
Setelah acara makan besar selesai dan cukup beristirahat kami berkemas untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Ketika itu kabut mulai turun. Tak lupa sampah kami bawa pulang kembali dan bekas api unggun kami beresi. Kami sempatkan foto ber enam di bekas tempat mendirikan tenda. Sekitar pukul 11.00 dengan bismillah kami melanjutkan perjalan menuju basecamp. Sepanjang perjalanan menuju basecamp kami lalui dengan  canda tawa meski dengan wajah – wajah kelelahan dan dengkul yang tersala linu.
Lokasi Mendirikan Tenda
Sekitar pukul 14.00 kami tiba di basecamp, cuaca mendung dan mulai turun gerimis. Setelah cukup beristirahat dan membersihkan diri kami berpamitan pada penghuni basecamp kemudian bergegas menuju rumah.

Kami bersyukur dapat kembali kerumah dengan selamat dan hujan tidak turun hingga kami tiba. Bersyukur dapat menyaksikan kebesaran Tuhan yang begitu menakjubkan dari puncak Gunung Sindoro. Bersyukur atas alam Indonesia yang begitu indah, karena itu mari kita menjadi penikmat alam yang bertanggung jawab. Jangan menjadi pendaki yang suka meninggalkan sampah di gunung, jangan menjadi pendaki mesum, jangan menjadi pendaki yang suka merusak alam, jangan menjadi pendaki yang suka corat – coret sembarangan, “stop vandalism broh!” karena sesungguhnya yang seperti itu adalah “ndeso” yang hakiki.

Pulang




Salam Lestari


_A.Y_