Sabtu, 24 September 2016

Gunung Sindoro
(Pawang Hujan VS Ramalan Cuaca)

            Akhirnya setelah beberapa kali jalan – jalan ke gunung dan mendapat paksaan maha dahsyat (dari diri sendiri) untuk mengabadikan momen jalan – jalan tersebut dalam bentuk tulisan sehingga dapat menjadi rujukan adik – adik yang barangkali mau membuat skripsi berjudul “Pengaruh Pawang Hujan dan Kemenyan Terhadap Intensitas Hujan di Gunung Sindoro” atau yang lain, misalnya. :v
A.Y
Pada tanggal 10 September 2016 saya dan beberapa teman melakukan pendakian ke gunung Sindoro via basecamp Sikatok, desa Sigedang (Perkebunan teh Tambi), Wonosobo.

Kronologisnya begini; Jumat malam 9 September 2016 sekitar pukul 19.30 saya dan dua orang teman berangkat menuju Wonosobo, beserta dengan seperangkat alat gunung lengkap dibayar dimuka (alias sewa). Dua jam kemudian sekitar pukul 21.30 kami berhenti di Parakan untuk mengisi perut, masakan padang, ada tipi nya dan kebetulan menayangkan bola antara ... (maaf lupa), dan kami putuskan menonton sampai selesai.
Basecamp Sikatok
Akhirnya, sekitar pukul 23.30 kami sampai di Wonosobo – Kaligintung – Kampung halaman saya dengan selamat. Keesokan harinya, sabtu pagi kami bertemu dengan tiga teman dari Wonosobo yang mau gabung ke Sindoro. Persiapan logistik dan lainnya segera disiapkan,  sementara itu saya menyempatkan diri kondangan ke teman yang kebetulan menikah hari itu.
Sabtu 10 September pukul 14.00 kami berangkat menuju basecamp Sikatok disertai doa orang tua supaya kembali lagi dengan selamat. 

Prakiraan Cuaca dan Pawang Hujan
            Jauh hari sebelum hari pendakian saya sudah mengingatkan teman – teman supaya bersiap untuk menghadapi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini. Dikarenakan beberapa teman baru pertama kali melakukan pendakian saya ingatkan untuk membawa jas hujan dan pakaian ganti, jadi meskipun nanti turun hujan kita tetap lanjut.

Suatu hari ketika kami berdiskusi tentang kemungkinan hujan, seorang teman berceletuk; “tenang bae nyong due kenalan pawang udan paling top se Wonosobo, ngemben pas muncak dijamin terang” (tenang saja saya punya kenalan pawang hujan paling top di Wonosobo, besok saat muncak pasti terang). Ha ha ha .... saya tanggapi celetukannya dengan tertawa.

Beberapa hari sebelum berangkat, setiap di kantor lagi selo saya rajin memantau prakiraan cuaca area Gunung Sindoro. Hampir setiap hari saya sempatkan nge-cek untuk memastikan perubahannya. Selama beberapa hari tersebut hasilnya konsisten, tanggal 10 september relatif  berawan, tanggal 11 september hujan sekitar pukul 10.00 dan hari lainnya hujan.

Basecamp – Batu Tulis
Tiket
            Sesampainya di basecamp tak lupa kami menyerbu makanan khas kota ini, tempe kemul, panas baru turun dari penggorengan. Kalau kata Pak Bondan: Maknyusss!!!
Kemudian saya mewakili teman – teman melakukan regristrasi, tiket per orang Rp 10.000  (di tiket tertulis Rp 5.000) dan per motor Rp 5.000. Total Rp 80.000 saya bayarkan tunai, 6 orang dan 4 motor. 
Kebun Teh 1
Waktu itu basecamp cukup sepi, hanya ada dua kelompok kalau saya tidak salah, tetapi sudah ada beberapa motor di parkiran. Setelah bertegur sapa dengan kelompok lain dan berfoto bersama, sekitar pukul 16.15 kami memulai pendakian. Dari basecamp menuju pos 1 kami melewati perkebunan teh yang begitu luas dan memanjakan mata. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga setempat dan bertegur sapa dengan ramah. 

Tak terasa sampailah kami di pos 1, sebuah bangunan atap cukup luas, mungkin difungsikan sebagai tempat untuk mengumpulkan hasil panen teh. Pos 1 sampai pos 2 masih dalam area perkebunan teh, hanya saja treknya semakin menanjak. Masih dalam area perkebunan teh kami beristirahat sejenak sambil makan salak bekal      seorang teman hasil panen belakang rumah. 

Kebun Teh 2
Tak lama berselang kami melanjutkan perjalanan     dan mulai memasuki kawasan hutan. Disini cuaca     mulai berkabut dan sedikit gerimis, dan saya             menyinggung pawang hujan paling top seantero       Wonosobo tadi;  dukune ora mandhi ki” (pawang   hujannya tidak manjur nih).,  Tenang  bae               pohoke, mau wes diobongna menyan, nang ndowor   cerah”, (tenang saja, tadi sudah dibakarkan               kemenyan, diatas pasti cerah) jawab temanku.   Yasudahlah, manut mbahe...
      
Tak lama kemudian terdengar suara adzan dari kejauhan, menandakan waktunya sholat maghrib. Kami putuskan berhenti sejenak menunggu kumandang adzan selesai dan barangkali ada yang mau menunaikan sholat maghrib dahulu. Namun ternyata tak ada yang melaksanakannya termasuk saya. Ampuni kami para mukhafir ini ya Allah...
Pos 3
Sekitar pukul 19.30 kami tiba di pos 3 (Batu Tulis), cuaca kembali cerah, langit berbintang dan udara semakin dingin. Jadi kami putuskan istirahat lagi sambil membuat kopi untuk  menghangatkan badan. Sambil menunggu air mendidih saya nyalakan handphone untuk melihat hasil foto di basecamp tadi. O me gatt, signal telkomsel disini penuh rupanya, sampai luber bisa buat ngisi signal XL dan Indosat! :v


Akhirnya setelah sekian lama kami bertemu juga dengan kelompok pendaki lain, mereka menyapa lalu melewati kami begitu saja.

Batu Susu
Abang Lelah Dek
Dari Batu Tulis kami menuju Batu Susu, tempat kami akan mendirikan tenda. Tadi di basecamp kami diingatkan untuk tidak mendirikan tenda di puncak, kami di sarankan mendirikan tenda di kawasan Batu Susu. Alasannya adalah dikarenakan kawah Sindoro sedang mengeluarkan asap / gas belerang yang berbau sangat menyengat. Benar saja, dari Batu Tulis saja aroma belerang sudah terendus menusuk hidung.

Dalam perjalanan menuju Batu Susu seorang teman sempat terperosok ke dalam kalenan (jalur air), dasarnya kami anak desa, melihat teman dalam penderitaan kami rame – rame menertawakannya hihihi, baru setelah itu kami menariknya keluar dari tempat terkutuk itu. Usut punya usut kejadian tadi dikarenakan keteledorannya sendiri, dikarenakan signal full  Ia melanjutkan pendakian sambil nyambi pantau medsosnya. Nah gaes, kita harus bijak ya dalam ber medsos, tahu kapan waktu yang tepat dan kapan waktu yang tidak tepat.

Dari kejauhan mulai terlihat tenda warna merah dan kuning berdiri bersebalahan layaknya sepasang kekasih yang sedang memadu cinta. Waktu sudah menunjukan pukul 20.15, meskipun gelap terlihat plang bertuliskan Batu Susu di pinggir jalan, artinya kami sudah sampai di camp area tempat kami akan menginap. Tak lama berselang kami melawati sepasang tenda tersebut, sepi tak terlihat penghuninya. Tak jauh dari situ terlihat dua tenda lainnya sudah berdiri. Kami memutuskan mencari tempat lebih ke atas dan yang cukup luas supaya tenda kami bisa bersebelahan layaknya sepasang kekasih sedang memadu cinta.

Akhirnya, dibawah pohon ini kami mendirikan tenda, bersebelahan. Di hadapan kami Gunung Prau, Gunung Botak, dan Gunung Kendil melambai – lambai minta kami datangi. Sungguh, dari ketinggian ini tiada lagi nikmat yang kami dustakan.

Setelah dua tenda berdiri dengan gagah sebagian dari kami menyiapkan makan malam dan sebagian menyiapkan membuat api unggun. Kebetulan di sekitar tenda banyak terdapat ranting dan kayu sisa kebakaran hutan beberapa waktu yang lalu. Kami menyusun batu melingkar untuk tempat membuat api unggun supaya api tidak menjalar ke sekitarnya. Kami duduk mengitarinya, bercanda, minum oplosan penghangat badan; susu jahe dengan coffemix sambil menunggu makan malam siap. Sungguh kebersamaan dalam suasana seperti ini selalu membuatku rindu.
Makan malam kami cukup mewah, masih ada nasi bekal dari rumah, lauknya ada ayam, bakso, rendang, soto juga ada. Semua dalam bentuk mie instan. hehe

Semakin malam ternyata semakin banyak pendaki lain yang berdatangan, beberapa kelompok melewati kami dan saling saling menyapa dengan ramah atau dengan “joke”, mereka berencana mendirikan tenda di sekitar puncak katanya. Dari tempat kami mendirikan tenda terlihat di bawah ada sekitar enam tenda sudah berdiri, termasuk sepasang tenda yang sedang memadu kasih tadi.

Menyoal tentang hujan, kami bersyukur cuaca malam ini cerah berbintang tiada mendung sedikitpun. Temanku tertawa puas kemenyannya manjur menangkal hujan :v 

Tetapi saya pribadi lebih suka percaya pada prakiraan cuaca yang ternyata kali ini tepat dalam memperkirakan cuaca hari ini. Tetapi apapun itu saya percaya semua terjadi karena kehendak Yang Maha Kuasa.

Sekitar pukul 23.00 api unggun kami matikan dan memutuskan untuk tidur, lalu melanjutkan summit attack  esok hari.

Puncak Sindoro 3153 Mdpl
            Minggu 11 September pukul 03.00 alarm berbunyi, kami bersiap untuk melanjutkan summit attack . Barang – barang berharga kami kemasi untuk dibawa serta demi keamanan dan sebagian logistik kami bawa sebagai bekal.  Sekitar pukul 03.30 kami mulai perjalanan dengan bismillah. Menurut orang basecamp, dari Batu Susu sampai ke puncak dibutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Tetapi karena kami bukan orang basecamp dan bukan pula pendaki propesional yang setrong - setrong , tiga puluh menitnya kami kalikan dua. 30 x 2 = 60, enam puluh menit sama dengan satu jam. Jadi kami perkirakan kami membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mencapai puncak.
 
Ini dia, pendakian yang sesungguhnya baru saja dimulai. Trek dari tempat kami mendirikan tenda langsung menanjak dan terjal berbatu. Dalam kondisi gelap dan hanya mengandalkan cahaya senter, kami sempat mengalami salah jalur. Kami salah melewati jalur air yang sangat sempit, terjal dan dalam. Setelah sadar ada yang salah dengan trek yang kami lalui kami mencari tempat tinggi dan cukup terbuka untuk melihat sekitar. Benar saja, jalur yang seharusnya berada sekitar 20 meter di sisi kiri kami. Akhirnya kami memotong jalan menuju jalur yang benar.
Di sepanjang jalan menuju puncak rupanya sudah ada beberapa tenda berdiri saling berjauh – jauhan. Seperti biasa kami saling bertegur sapa setiap bertemu pendaki lain, hal yang jarang dilakukan ketika sedang berada di kota tempat kita tinggal.

Dingin semakin menusuk tulang, bau belerang kian menyengat namun puncak tak kunjung nampak. Kami berjalan cukup lambat, selain dikarenakan treknya yang aduhai, kami juga menunggu salah satu rekan kami yang tak lain tak bukan adalah adik saya sendiri, yang sudah kelelahan dan kehabisan tenaga. Sepuluh meter berjalan minta break, maklum ini kali keduanya naik gunung setelah Gunung Prau. Dalam situasi seperti ini saya menyarankan teman – teman untuk melanjutkan perjalanan lebih dulu supaya tidak ketinggalan moment sunrise. Empat orang melanjutkan perjalanan penuh semangat menuju puncak, dan saya berjalan dengan sabar menemani adiku yang kelelahan ini.

Beberapa saat kemudian nun jauh diatas sana seorang teman berteriak memberitahukan kalau mereka sudah mencapai puncak dan menunggu kami di sana. Matahari belum muncul ketika itu, mengetahui teman – teman sudah sampai puncak membuat adiku semakin bersemangat melanjutkan perjalanan, lebih termotivasi lagi karena ia ingin menyaksikan sunrise dari puncaknya.

Yeahh puncak! Setelah melakukan perjuangan yang begitu berat akhirnya samapailah kami di sini, puncak Gunung Sindoro 3153 Mdpl. Sekitar pukul lima dini hari kurang sedikit kami sampai di puncak tertinggi Gunung Sindoro. Batara Surya masih enggan menampakan wujudnya, namun sinarnya tak mampu Ia sembunyikan, tajam bagaikan pedang, berkilau menembus awan yang bergulung laksana ranjang Dewi Nawang. 

Tak berselang lama Batara Surya menampakan wujudnya tanpa malu. Dengan mahkota kuning keemasan yang membuatnya terlihat begitu gagah, Ia membuat para penonton yang budiman berteriak kegirangan seperti tetangga saya yang berteriak histeris ketika menyaksikan Ariel muncul dari belakang panggung ketika konser.
 
Setelah puas menyaksikan sunrise dan mengabadikannya dengan berfoto kami memutuskan untuk tidak buru – buru kembali ke tenda. Kami bersepakat untuk berkeliling di kawasan puncak yang begitu luas. Sebelum melanjutkan perjalanan kami membuat kopi panas dan sarapan  roti anyep dengan topping susu kental manis.
Setelah tenaga terkumpul kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju bibir kawah, meskipun  asap pekat dan bau belerang menyengat hal itu tak menjadi penghalang bagi rasa penasaran kami untuk melihat kawah dari dekat, meskipun pada akhirnya kami tak dapat melihat dasar kawah karena seluruh area kawah tertutup oleh asap yang dikeluarkan kawah itu sendiri. 

Dari bibir kawah terdengar suara gemuruh sangat keras yang bersumber dari dasar kawah, seperti suara pesawat ketika lepas landas. Menurut beberapa referensi yang saya peroleh mengenai kawah Gunung Sindoro, ketika kawah sedang tidak mengeluarkan asap / gas belerang, para pendaki bisa turun mendekat ke dasar kawah karena disekitarnya terdapat tanah datar yang cukup luas.


Segoro Wedi atau Segoro Wedhi
            Berikutnya kami menuju Segoro Wedi, entah yang benar Segoro Wedi atau Segoro Wedhi. Kebanyakan orang menuliskannya Segoro Wedi. Menurut analisa saya yang dangkal ini, Segoro itu bermakna  Laut, Wedi sama dengan Takut, sedangkan Wedhi artinya Pasir. Jadi Segoro Wedi bisa saya artikan sebagai lautan takut, atau bisa juga ketakutan yang luas. Sedangkan Segoro Wedhi saya terjemahkan menjadi Lautan Pasir. Saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai Segoro Wedhi, mengingat kondisi puncak yang luas dan lapang serta bertanah bercampur kerikil entah bagaimana menyebutnya, maka Segoro atau Lautan disini saya analogikan sebagai puncak yang luas dan lapang. Sedangkan Wedhi saya analogikan sebagai kondisi tanah berkerikil yang lebih mendekati pasir.
Bagaimanapun juga analisa saya tentang Segoro Wedhi adalah analisis berdasarkan logika sederhana dan tidak ada sumber atau dalil shahih yang dapat dipertanggungjawabkan. Jadi mari kita lanjutkan saja ke cerita selanjutnya.
                            
Ketika kami berjalan disekitar Segoro Wedhi, saya mencium aroma  menyengat yang cukup aneh berada di tempat seperti ini, bukan bau belerang, ini aroma yang tak asing dihidungku, aroma yang sering saya hirup ketika sedang berjalan di sekitar klenteng, dupa! Benar saja, disekitar Segoro Wedhi terdapat sebuah makam dari tumpukan batu dan beberapa dupa terselip disana.  Saya tidak tahu pasti mengenai makam tersebut dan kurang begitu tertarik untuk mencari tahu. Hanya saja disalah satu batunya terdapat tulisan Makam Mbah KH Santri. 
Makam

Tak jauh dari makam rupanya terdapat camp area yang cukup luas. Banyak tenda yang berdiri disana, mungkin mereka mendaki dari jalur yang berbeda dengan kami.




Turun Gunung
Edelweis
Sekitar pukul 09.00 kami kembali turun menuju tenda. Perjalanan turun relatif lebih mudah dibandingkan dengan waktu naik. Tidak jauh dari puncak kami disuguhi pemandangan indah di seketar kami, bunga edelweis tumbuh dimana – mana. Ada lagi tanaman yang tak kalah indahnya yang tak saya ketahui namanya, bunganya berwarna merah, banyak di temukan disekitar puncak. Disepanjang jalan kami banyak menemukan buah Ucen, buah ini seperti buah strawberry, rasa dan bentuknya hampir sama, hanya saja buah ini lebih kecil.
Bunga .....
Kami sengaja memperlambat perjalanan turun supaya bisa berlama – lama menikmati pemandangan alam yang indah ini. Hingga akhirnya saya dan seorang teman memutuskan berjalan menuju tenda lebih dulu untuk menyiapkan sarapan tahap dua. Terhitung kurang dari satu jam sejak kami meninggalkan puncak tadi, saya dan seorang teman sudah sampai tenda.  Setelah beristirahat sejenak didalam tenda, dibawah sebuah pohon, kami berdua mulai beraksi. Kali ini kita masak besar, nasi putih! Dengan lauk tak jauh berbeda                                                                 dari makan malam.
Jalan Menuju Puncak

Satu persatu teman – teman mulai tiba  tidak berbarengan. Dan yang terakhir tak lain tak bukan adalah adiku yang ditemani seorang teman dengan sabarnya. Sementara itu nasi belum juga matang, inilah alasan saya menyebutnya masak besar, besar sabarnya !
Setelah acara makan besar selesai dan cukup beristirahat kami berkemas untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Ketika itu kabut mulai turun. Tak lupa sampah kami bawa pulang kembali dan bekas api unggun kami beresi. Kami sempatkan foto ber enam di bekas tempat mendirikan tenda. Sekitar pukul 11.00 dengan bismillah kami melanjutkan perjalan menuju basecamp. Sepanjang perjalanan menuju basecamp kami lalui dengan  canda tawa meski dengan wajah – wajah kelelahan dan dengkul yang tersala linu.
Lokasi Mendirikan Tenda
Sekitar pukul 14.00 kami tiba di basecamp, cuaca mendung dan mulai turun gerimis. Setelah cukup beristirahat dan membersihkan diri kami berpamitan pada penghuni basecamp kemudian bergegas menuju rumah.

Kami bersyukur dapat kembali kerumah dengan selamat dan hujan tidak turun hingga kami tiba. Bersyukur dapat menyaksikan kebesaran Tuhan yang begitu menakjubkan dari puncak Gunung Sindoro. Bersyukur atas alam Indonesia yang begitu indah, karena itu mari kita menjadi penikmat alam yang bertanggung jawab. Jangan menjadi pendaki yang suka meninggalkan sampah di gunung, jangan menjadi pendaki mesum, jangan menjadi pendaki yang suka merusak alam, jangan menjadi pendaki yang suka corat – coret sembarangan, “stop vandalism broh!” karena sesungguhnya yang seperti itu adalah “ndeso” yang hakiki.

Pulang




Salam Lestari


_A.Y_