Gerakan Empat November - Enam Belas
Pendakian Gunung Sumbing
Malam itu, 4/11/16 kami janji bertemu di Pom Banyumanik
jam delapan malam. Dari tiga arah mata angin berbeda kami datang untuk menuju tempat
yang sama, Gunung Sumbing. Aku yang pertama sampai, sekitar jam delapan kurang sepuluh menit. Tak lama berselang
seorang teman datang, Anggun. Empat lainnya masih dalam perjalanan. Dua jam
kemudian mereka tiba, terlambat dua jam dari jadwal. Tak jadi soal, Aku maklum
mereka datang dari jauh, terkena macet, menerjang hujan pula.
Kami tidak langsung menuju basecamp. Kami berencana
mampir dan beristirahat dahulu di rumah orang tuaku, Wonosobo. Berjarak kurang
lebih satu jam dari basecamp Garung dengan mengendarai motor jika kondisi jalan
tidak macet.
Jam satu dini hari kami tiba di rumah. Belum sempat aku mengetuk pintu orang tuaku
lebih dulu keluar rumah menyambut kami. Ibuku menyuguhi kopi dan makanan siap
santap untuk menghangatkan badan. Dan kami pun tidur.
Cuaca cukup bagus pagi itu. Setelah mandi, sarapan dan
ngopi, kami menyusun ulang perbekalan pendakian. Setelah semua beres, kami
berpamitan untuk segera berangkat menuju Gunung Sumbing. Tak lupa aku berbisik
pada Ibuku saat berpamitan, bisikan yang selalu aku lakukan sebelum mendaki
gunung manapun; “Mak, doakan hari ini
tidak hujan dan kami pulang lagi dengan selamat”.
Basecamp
Sabtu, 5 November 2016. Sekitar jam
sebelas siang suasana basecamp tidak begitu ramai, hanya ada satu dua kelompok
pendaki terlihat di sana. Parkiran juga terlihat lengang, hanya terlihat
beberapa motor terparkir.

Setelah urusan regristrasi beres, dipimpin brother
Azam kami berdoa sebelum mulai pendakian.
Awalnya kami berencana lewat jalur
baru, dari persimpangan kampung ambil arah kanan. Persimpangan pertama benar, on track. Persimpangan kedua, petunjuk
arah jalur baru ambil arah kanan. Kami siap melangkah ke kanan sebelum seorang
Ibu yang kebetulan lewat menyarankan untuk ambil arah lurus karena menurutnya
jalur baru lebih susah dan jauh. Seorang kakek yang mendengar percakapan kami
dengan si Ibu tiba-tiba keluar dari rumahnya dan menyarankan sama seperti yang
disarankan si Ibu tadi. Dua suara untuk arah
lurus, akhirnya kami mengikuti saran mereka. Baru beberapa meter kami
melangkah, ketemu lagi persimpangan. Seorang Bapak di depan rumahnya menunjukan
arah yang sama seperti yang disarankan Ibu dan Kakek tadi, arah lurus. Tiga suara..

Sambil berjalan kami sedikit ragu apakah jalur ini benar
atau tidak, sebab jalur ini tidak ada dalam peta yang kami peroleh dari
basecamp. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga dan mereka selalu menyapa
dengan kalimat tanya yang sama; “Ajeng
muncak mas?” Dari pertanyaan itu kami mulai yakin bahwa jalur ini benar.
Kami tiba di jalan raya, jalan dari susunan batu. Sampai
sini kami mulai paham bahwa ternyata kami melewati jalan pintas area ladang
warga. Jika dari persimpangan kampung tadi, jalur lama ambil arah kiri
mengikuti jalan berbatu ini dan akan melewati sungai yang tadi sempat kami
cari-cari. Sedangkan jalur baru ambil arah kanan yang tidak jadi kami lewati
karena saran dari Ibu, Kakek dan Bapak tadi. Sedangkan jalur yang kami lalui
ini adalah jalur pintas yang tidak ada dalam peta, meski akhirnya tembusannya
adalah jalur lama juga. Setidaknya kami hemat waktu dan tenaga beberapa menit.
Malim
Sekarang aku paham kenapa banyak
pendaki yang memilih ngojek dari
basecamp menuju pos 1 (Malim). Jalan berbatu ini meliuk – liuk seperti tak ada
ujungnya, nanjak dan panas minta ampun karena saat itu matahari tepat berada di
atas kepala. Air, pisang, dan telo godog mulai keluar bergantian dari sarangnya,
pun agar-agar yang katanya menunda lapar. Sikattt
Gan...
Setelah kurang lebih berjalan selama dua jam, pos 1 mulai terlihat dari
kejauhan. Cukup ramai, beberapa kelompok pendaki, tukang ojek yang motor dan skillnya membuatku geleng-geleng kepala,
ada juga warung di sana, mushola ada, air melimpah. Tapi sayang, jodohku tidak
ada di sana..
Cukup lama kami berhenti di pos 1, setelah makan siang dan
beristirahat kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan setelah sholat ashar,
sekitar setengah jam kemudian.
Jam tiga kami melanjutkan perjalanan. Cuaca bagus saat itu, bisa dibilang cerah
menggembirakan. Perjalanan menuju pos 2 tidak begitu berat, adem banyak
pohonnya. Sesekali kami berhenti untuk memperpanjang nafas sambil
cekrak-cekrek, photo.
Engkol – engkolan
Selepas pos 2 perjalanan mulai nanjak dan menantang,
lebih tepatnya berat. Jika digambarkan dengan kata-kata begini kira-kira; dari
pos 2 naik, lalu naiiiiikkk, kemudian naiiiiiikkkkkkkkkkkk, setelah itu naiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkk
lagi, baru setelah itu sampailah pada apa yang kita semua menyebutnya engkol –
engkolan.
Apa itu engkol – engkolan? Aku sendiri tidak bisa menemukan definisi yang tepat
untuk istilah ini. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) pun aku tidak menemukan
isilah ini. Istilah ini biasa digunakan dalam pendakian, bahkan di peta jalur
pendakian (Sumbing) juga disebutkan area engkol – engkolan ini.
Sepengetahuanku, engkol-engkolan ini merujuk pada trek yang berat, nanjak, dan
melelahkan pokoknya. Untuk lebih jelasnya silahkan tanya pada para suhu dunia pendakian.
Jam enam petang tenda kami berdiri. Dua tenda, masing-masing
berkapasitas empat orang. Kami memutuskan berkemah di camp area pos 3 karena menurut referensi yang kami peroleh, area
inilah yang paling nyaman untuk berkemah. Selain itu tenaga juga sudah terkuras untuk menaklukan engkol-engkolan.
Makan malam, ngopi, udud sudah. Kami pun tidur...
Mataku terpejam, tetapi otak belum mau diajak ke alam mimpi. Ku tengok sebelah
kananku brother Ni’am dan sebelah
kiriku brother Dedek terlihat nyenyak
mereka. Tenda sebelah yang di isi Azam, Umar dan Anggun juga tak terdengar
suaranya, hanya playlist dangdutnya
yang menggelegar memekakkan telinga. Pisss...
Sekitar jam sepuluh angin kencang datang menerpa
pepohonan di sekitar sehingga menimbulkan suara menyeramkan. Gerimis turun,
perlahan menjadi deras membuat suasana semakin ngeri. Aku pasang Headset, musik ku nyalakan keras-keras. Aku
pun tertidur.
Pasar Itu Bernama Pasar Watu
Entah alarm yang kami setel berbunyi atau tidak, yang
pasti kami kesiangan. Jam lima dini
hari aku bangun. Terlambat dua jam dari jadwal yang sudah kami rencanakan
sebelumnya. Aku keluar tenda, hujan telah berhenti entah sejak kapan. Di
hadapanku terlihat Gunung Sindoro berdiri dengan gagahnya. Tidak ada sunrise dipendakian kali ini, hanya
terlihat mega – mega merah membentang seakan menjadi batas antara langit dan
bumi.
Summit attack!
Perjalanan dilanjutkan,
beban kami ringan sekarang, hanya makanan dan minuman seperlunya yang kami
bawa. Rupanya banyak tenda yang berdiri di sekitaran camp area ini. Di tengah perjalanan, Azam mengeluarkan sesuatu dari
dalam tasnya. Bendera Palestina. Ternyata mereka membawa misi perdamaian tanpa
sepengatahuanku. Sungguh mulia perbuatan kalian, salut..
Jika kita amati, nama – nama pos yang digunakan pada
setiap gunung itu unik – unik. Ada juga yang mistis. Entah siapa yang pertama
kali memberikan nama, tentunya ada alasan yang mendasarinya. Seperti pos 4 ini
misalnya, namanya “Pasar Watu”. Umumnya pasar itu didefinisikan sebagai tempat
untuk jual beli, sedangkan watu
artinya batu. Tetapi di sini tidak
ada kegiatan jual beli seperti yang orang lakukan ketika berada di pasar pada
umumnya. Lapak – lapak jualan juga tidak ada. Hanya ada papan bertuliskan “Pos
3 – Pasar Watu”, dan bebatuan yang mendominasi kawasan tersebut. Jika dikaitkan
dengan mistis bisa jadi pasar yang dimaksudkan di sini adalah pasarnya alam
lain. Alam yang tidak kasatmata oleh manusia.
Apapun itu, kami para pendaki adalah tamu (yang tidak diundang) yang harus tahu
diri dan menghormati juga mematuhi aturan dan pantangan disana, baik yang
tertulis maupun yang tidak. Yang tidak tertulis contohnya adalah tidak membicarakan
hal mistis ketika sedang mendaki.
Pemandangan dari sini sangat indah. Jalan terjal berbatu
pun terlihat indah dari kejauhan. Padahal ketika dilewati, rasanya mau pingsan.
Semua terlihat kecil di bawah sana. Mungkin seperti Tuhan ketika melihat
manusia dari atas sana, kecil, hanya egonya saja yang nampak besar.
Berbicara soal ego, ada yang mengatakan bahwa mendaki
gunung itu bukan soal menaklukan puncak tertinggi, tetapi menaklukan diri
sendiri. Itu benar. Maksudanya adalah tentang bagaimana kita menaklukkan ego
kita yang besarnya melebihi gunung itu sendiri. Ambisi mencapai puncak
tertinggi tanpa memperhitungkan kemampuan sendiri maupun kelompoknya,
mengacuhkan situasi dan kondisi gunung itu sendiri, dan satu lagi yang bikin
miris, asal bisa foto keren di puncak tertinggi. Itu namanya ketololan.
Dalam “Catatan Seorang Demonstran”, Soe Hok Gie menulis
begini; “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami
katakan bahwa kami adalah manusia – manusia yang tidak percaya pada
slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh
dari hipokrasi dan slogan – slogan. Seseorang hanya dapat mencintai
sesuatu secara sehat kalau ia mengenal
objeknya. Dan mencintai tanah air indonesia bersama rakyatnya dari dekat.
Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik
yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”. Itu diucapkan
Gie ketika sedang menyiapkan misi pendakian ke Gunung Semeru, untuk menjelaskan
pada rekan – rekannya yang menanyakan kenapa Ia ingin melakukan misi tersebut. Ia,
Gie, adalah seorang mahasiswa FSUI jurusan sejarah, tulisan – tulisannya kritis
terhadap pemerintahan ORLA dan ORBA (Zaman Peralihan), berani mengemukakan
pemikiran – pemikirannya yang dianggap benar, dan senang mendaki gunung
tentunya. Sayang sekali Ia mati muda, di Gunung Semeru, sehari sebelum hari
kelahirannya, 16 Desember 1969. Penyebab kematiannya yang banyak beredar adalah
karena menghirup gas beracun. Ia juga pernah berkata “Seorang
filsuf Yunani pernah menulis, nasib terbaik adalah tidak dilahirkan,
yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.
Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” Ya, berbahagialah
kau disana.
Dibohongi Pakai Kabut
Terdengar aneh dan membuat kami
saling bertanya, dari puncak tertinggi Gunung Sumbing terdengar suara adzan jam
sepuluh siang. Apa menurutmu?
Sebelum sampai di puncak ada sebuah persimpangan yang
satu menuju puncak buntu (lebih rendah) dan satunya menuju puncak tertinggi.
Kami menuju puncak tertinggi. Akhirnya setelah perjuangan yang kami lakukan
dengan melewati halangan dan rintangan yang membentang dari bawah sampai atas,
sampailah kami di sini, puncak! Kabut tebal menyelimuti pemandangan sekitar dan
menyebabkan jarak pandang hanya sebatas beberapa langkah kaki. Aku duduk di atas
batu, bersiap mengabadikan momen di ketinggian ini. Perlahan kabut mulai
memudar.
Tunggu dulu! Rupa – rupanya ini bukan puncak tertinggi.
Masih ada petunjuk arah menuju puncak tertinggi. Tadi tak terlihat karena
tertutup kabut. Sekarang semua jelas, ini adalah Puncak Kawah, di balik batu besar yang aku duduki ternyata terdapat
kawah yang tadi tidak nampak sama sekali. Di papan penunjuk arah tertulis
puncak tertinggi lima menit dari sini. Puncak
tertinggi ada di atas dinding batu besar. Kami menaikinya, sampai di
tengah kami merambat melalui sisi kanan dinding batu.
Terlihat sekelompok pendaki sedang membuat kopi di balik
batu, di atasnya dua orang berseragam macam seragam militer sedang berfoto
sambil mengibarkan Sang Merah Putih. Inilah puncak tertinggi yang sebenarnya. Puncak
3371 Mdpl, ada yang menyebutnya Puncak Sejati, ada juga yang menyebut Puncak
Rajawali, barangkali ada lagi yang memiliki sebutan lain? Silakan..
Kabut masih mendominasi, pekat mengaburkan pandangan. Aku
duduk berlindung batu dari terpaan angin. Menyalakan rokok dan menenggak teh pait dari termosnya Dedek. Saat
itulah suara adzan berkumandang jam sepuluh siang.
Di Basecamp Kami Berpisah
Di basecamp, sebelum kami mendaki, seorang Ibu penjual
jamu menawarkan jamu anti lelah kepada
kami. Jika sebelum muncak minum jamu ini maka diperjalanan tidak akan merasakan
lelah, katanya. Hanya aku yang minum jamu seharga Rp. 10.000 ini. Tetapi, tetap
saja lelah.
Aku berjalan lebih cepat dari yang lain ketika turun dari
puncak. Motivasinya karena aku kelaparan. Pisang dan bengkoang segera ku lahap
ketika sampai di kemah. Sambil menunggu yang lain tiba, aku masak mi instan
tiga bungkus sekaligus. Maksudnya untuk makan tiga orang bukan untuk diriku
sendiri. Aku tidak serakus itu..
Mari Mas.. mari – mari, Nutrisari.. Bagi yang sudah
pernah mendaki gunung mungkin pernah mendengar gurauan macam itu. Biasanya
dimaksudkan untuk menyapa pendaki satu dengan lainnya ketika bertemu di jalan.
Mari Mas di sini maksudnya adalah sapaan ramah untuk saling menghormati, bukan
minuman kemasan banyak rasa. Ketika jalur pendakian ramai, dan antar pendaki
satu dengan lainnya seringkali saling melewati, seperti Rossi dan Marquez saat
balapan itu loh. Maka kata Mari Mas seringkali diplesetkan menjadi Marimas
(minuman) dan seringkali dijawab dengan kata Nutrisari (minuman). Tetapi saat
kondisi fisik sudah terlalu lelah, bahkan untuk sekedar mengucapkan kata Mari
Mas saja dirasa sudah mengurangi tenaga, cukup kasih senyuman saja. Jika senyum
juga sudah malas dan terasa menguras tenaga, diam saja, menunduk pura – pura ttidak
melihat orang di sekitar.

Bu, nutrisari satu! Ini baru nutrisari sungguhan. Sudah
ku bilang tadi bahwa di Pos 1 terdapat sebuah warung. Sambil menunggu kawan
yang masih tertinggal di belakang, aku beristirahat di warung ini sambil minum
nutrisari rasa sirsat.
Menjelang maghrib kami beranjak dari Malim menuju
basecamp. Akhirnya senter kami bermanfaat juga karena hari mulai gelap. Sesampai
di basecamp kami beristirahat dan memesan makanan, aku hanya pesan teh anget
karena belum lapar dan ingin makan di rumah. Satu jam kemudian pesanan datang.
Luar biasa, lamanya!
Jam sembilan malam kami bersiap pulang. Sebagian ke
Semarang, sebagian ke Kaliwungu/Kendal, dan aku ke rumah orang tuaku, Wonosobo.
Seremoni perpisahan segera dilakukan. Kami saling berjabat tangan, tidak
berpelukan. Saling berterimakasih untuk kebersamaan yang hangat dalam gerakan
empat november enam belas ini. Tidak ada air mata, hanya air hujan karena
gerimis mulai turun.
Semarang,
18 November 2016
_A.Y_